Sunyi di Balik Pernikahan (3) Tidak Lagi Menyimpan Luka Sendirian

Senin 04-05-2026,17:39 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Udin

Setelah malam itu, rumah mereka tidak lagi sama. Bukan karena masalahnya hilang. Tapi karena akhirnya… semua diucapkan. Bintang tidak lagi berpura-pura kuat. Ia mulai menjalani terapi dengan lebih serius. Ia mencoba terbuka, meski setiap kata terasa berat keluar dari mulutnya.

Bulan juga berubah. Ia tidak lagi menebak-nebak. Tidak lagi menyimpan luka sendirian. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang terus menghantuinya: Rasa yang sudah lama kosong… tidak langsung kembali hanya karena kejujuran. Suatu malam, mereka duduk berhadapan tanpa suara.

“Mas…” Bulan membuka percakapan. “Iya…” “Kamu ingin memperbaiki ini?”

BACA JUGA:Kebakaran Mimbo Situbondo Hanguskan 3 Rumah Lansia, Uang Tunai Rp 160 Juta Ludes


Mini Kidi Wipes.--

Bintang mengangguk. “Aku tidak ingin kehilangan kamu.” Bulan menatapnya lama. “Aku juga tidak ingin kehilangan kita,” katanya pelan. “Tapi aku juga tidak ingin kehilangan diriku sendiri.”

Kalimat itu menggantung. Karena untuk pertama kalinya, Bulan jujur bukan hanya tentang pernikahan…tapi tentang dirinya sendiri. Hari-hari berikutnya berjalan dengan usaha. Bintang berusaha hadir. Bulan berusaha memberi ruang.

Namun luka yang lama tidak hilang begitu saja. Ada momen di mana Bulan merasa kuat. Ada juga momen di mana ia kembali merasa kosong sendirian, meski tidak benar-benar sendiri. Suatu sore, Bulan duduk sendirian di ruang tamu.

Ia memikirkan semuanya. Tentang cinta yang pernah ada. Tentang luka yang sempat ia rasakan. Dan tentang pilihan yang kini ada di tangannya. Bertahan… atau pergi. Bukan karena benci. Bukan karena marah.


Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--

Tapi karena ia harus jujur pada dirinya sendiri. Malam itu, Bulan berdiri di depan Bintang. “Aku butuh waktu,” katanya pelan. Bintang menatapnya, kali ini tidak memaksa. “Waktu untuk apa?” tanyanya lirih. “Untuk tahu… apakah aku masih bisa tinggal di sini dengan hati yang utuh.”

Sunyi. Tidak ada jawaban pasti. Tidak ada keputusan cepat. Hanya dua orang yang akhirnya mengerti bahwa cinta… tidak selalu cukup untuk langsung menyembuhkan. Dan dalam cerita ini, tidak ada akhir yang benar-benar hitam atau putih.

Karena dalam kehidupan nyata, pilihan terbesar bukan selalu tentang siapa yang salah. Tapi tentang siapa yang cukup kuat…untuk jujur pada dirinya sendiri. (atp/fer/habis)

Kategori :