SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Dunia bersiap menyaksikan babak baru eksplorasi antariksa melalui misi program Artemis yang bertujuan membangun kehadiran manusia secara berkelanjutan di bulan.
NASA kini bergerak dengan pendekatan lebih modern dan kolaboratif setelah lebih dari setengah abad sejak era misi Program Apollo berakhir.
Langkah awal telah dimulai melalui Artemis I pada 2022 sebagai misi tanpa awak yang sukses menguji roket raksasa Space Launch System (SLS).
Keberhasilan misi tersebut membuktikan bahwa arsitektur sistem navigasi dan perlindungan panas siap membawa manusia kembali ke orbit Bulan.
Tahap berikutnya adalah Artemis II yang telah meluncur pada April 2026 sebagai penerbangan berawak pertama ke sekitar bulan dalam 53 tahun.
Empat astronaut yaitu Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen menjalani perjalanan sekitar 10 hari mengorbit Bulan.
BACA JUGA:Rekomendasi Waktu Makan Buah Surabaya Berdasarkan Kandungan Gula Agar Manfaat Tetap Optimal
Fokus utama misi ini adalah menguji sistem pendukung kehidupan Orion dalam kondisi ruang angkasa dalam guna memastikan keselamatan kru.
Puncak program ini adalah Artemis III yang ditargetkan pada 2027 untuk mendaratkan manusia di wilayah kutub selatan bulan.
Mini Kidi Wipes.--
Area kutub selatan bulan diyakini menyimpan cadangan es air yang berpotensi menjadi sumber daya penting bagi eksplorasi jangka panjang.
Misi Artemis III akan menandai kembalinya manusia ke permukaan bulan sejak terakhir kali dilakukan pada tahun 1972 silam.
Pendaratan ini sekaligus membuka jalan bagi pembangunan pangkalan permanen manusia di luar angkasa dan misi lanjutan menuju Mars.
Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
Artemis dirancang sebagai program jangka panjang yang memungkinkan manusia bolak-balik ke bulan secara berkelanjutan untuk masa depan.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana maka program ini menjadi tonggak baru eksplorasi antariksa modern manusia di luar bumi.