Karena untuk pertama kalinya, ia berada di dua dunia.
Satu dunia yang stabil tapi terasa membosankan.
Satu dunia yang menyenangkan tapi tidak punya akar.
Dan di tengah itu, Bintang mulai kehilangan arah.
Puber kedua bukan hanya tentang gairah yang kembali.
Ia tentang ilusi bahwa hidup bisa diulang tanpa konsekuensi.
Padahal kenyataannya, setiap pilihan baru…
selalu membawa sesuatu yang harus dikorbankan.
Dan dalam kisah ini, Bintang belum sadar—
bahwa gairah yang ia kejar,
perlahan sedang menghancurkan apa yang paling nyata ia miliki. (atp/fer/bersambung)