new idulfitri

Saudara Adalah Maut (2) Adik yang Tidak Merasa Bersalah

Saudara Adalah Maut (2)  Adik yang Tidak Merasa Bersalah

ilustrasi--

Rumah itu tidak lagi terasa seperti rumah. Sejak malam itu, semua berubah. Udara terasa berat. Setiap sudut menyimpan sesuatu yang tidak pernah diminta Bulan—pengkhianatan dari dua orang yang paling ia percaya.

Namun, yang paling menyakitkan bukan apa yang ia lihat. Melainkan apa yang terjadi setelahnya.

Pagi itu, Bulan duduk di ruang tamu. Ia tidak menangis. Tidak berteriak. Ia hanya menunggu—mungkin sebuah penjelasan, mungkin sebuah penyesalan.

Rani keluar dari kamar dengan wajah yang... biasa saja. Tidak ada rasa bersalah yang terlihat.

“Kak…” katanya pelan.


Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--

Bulan menatapnya. Lama.

“Sejak kapan?” tanya Bulan langsung.

Rani menghela napas, seolah pertanyaan itu hanya formalitas. “Sudah beberapa waktu.”

Jawaban itu tidak diikuti dengan penyesalan. Tidak ada kata “maaf”. Tidak ada rasa bersalah. Justru yang datang adalah sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

“Kakak juga harus ngerti,” lanjut Rani. “Perasaan itu nggak bisa dipaksa.”

Bulan merasa seperti ditampar.

“Jadi kamu pikir ini soal perasaan?” suaranya tetap tenang, tapi dingin.

Rani mengangguk kecil. “Aku nggak pernah berniat menyakiti Kakak. Tapi aku juga nggak bisa bohong sama diri sendiri.”

Kalimat itu seperti merobek sesuatu di dalam dada Bulan. Selama ini, ia percaya bahwa pengkhianatan selalu datang dengan rasa bersalah. Ternyata tidak. Ada orang yang melukai... dan tetap merasa benar.

“Dia suami aku,” kata Bulan pelan.

Rani menatapnya tanpa mundur. “Tapi dia juga manusia.”


Mini Kidi Wipes.--

Bulan tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia melihat adiknya bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai seseorang yang memilih dirinya sendiri tanpa peduli apa yang hancur di belakangnya.

“Kalau aku suruh kamu pergi dari rumah ini?” tanya Bulan.

Rani terdiam sebentar, lalu berkata, “Kalau itu yang Kakak mau.”

Nada suaranya datar. Seolah semua ini bukan sesuatu yang besar. Seolah rumah ini bukan tempat ia pernah dilindungi. Seolah kakaknya bukan orang yang pernah ia cintai sepenuh hati.

Malam itu, Bulan duduk sendirian. Bukan karena ia tidak punya pilihan, tapi karena ia baru menyadari satu hal yang paling pahit:Tidak semua orang yang kita lindungi akan menjaga kita kembali.

Dan kadang, luka terdalam bukan datang dari musuh, melainkan dari seseorang yang bahkan tidak merasa bersalah saat menghancurkan kita.

(atp/fer/bersambung)

Sumber: