Puber Kedua Membawa Petaka (3): Perempuan yang Dulu Ada Kini Tidak Kembali
ilustrasi--
Awalnya Bintang merasa mengendalikan semuanya.
Ia yakin bisa menjaga dua dunia tetap berjalan. Di rumah, ia masih menjadi suami. Di luar, ia merasa hidup kembali. Ia berpikir selama tidak ada yang tahu, tidak ada yang benar-benar rusak.
Sampai akhirnya… semuanya runtuh bersamaan.
Malam itu, Bulan tidak menunggu lagi.
Tidak ada drama. Tidak ada teriakan. Hanya satu kalimat yang diucapkan dengan sangat tenang,
“Aku tahu semuanya.”
Bintang terdiam.

Mini Kidi Wipes.--
Ia tidak lagi mencoba membela diri. Tidak lagi mencari alasan. Ia tahu, kali ini bukan sekadar curiga.
“Sejak kapan?” tanya Bulan.
“Sudah beberapa bulan,” jawab Bintang pelan.
Bulan mengangguk kecil. Tidak ada air mata.
“Aku tidak akan bersaing dengan perempuan yang membuat kamu merasa lebih hidup,” katanya. “Kalau itu yang kamu pilih, aku tidak akan menghalangi.”
Kalimat itu tidak seperti ancaman.
Itu keputusan.
Beberapa hari kemudian, Bulan benar-benar pergi.
Rumah yang dulu penuh suara kini hanya diisi keheningan. Tidak ada lagi suara piring di dapur. Tidak ada lagi pertanyaan sederhana seperti, “Kamu sudah makan?”
Bintang mencoba mengisi kekosongan itu dengan sesuatu yang ia anggap sebagai “pilihan”.
Ia mendatangi Nara.
Namun kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada lagi tawa ringan. Tidak ada lagi percakapan panjang yang terasa menyenangkan.
“Kamu sudah menyelesaikan semuanya?” tanya Nara.
“Iya,” jawab Bintang singkat.
Nara terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan,
“Aku tidak ingin jadi alasan kamu kehilangan semuanya.”
Bintang menatapnya. “Bukannya ini yang kita jalani selama ini?”
Nara menggeleng. “Selama ini kamu masih punya rumah. Kamu masih punya seseorang yang menunggu kamu. Sekarang semuanya sudah berubah.”

Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--
Kalimat itu terasa seperti pukulan kedua.
“Aku tidak siap untuk ini,” lanjut Nara. “Aku hanya ingin sesuatu yang ringan. Bukan hidup yang harus aku tanggung.”
Untuk pertama kalinya, Bintang benar-benar sendiri.
Bukan karena ditinggalkan satu orang.
Tapi karena ia kehilangan dua dunia sekaligus.
Rumah yang dulu ia anggap biasa kini terasa sangat berarti. Perempuan yang dulu ia anggap selalu ada kini benar-benar tidak kembali.
Dan perempuan yang membuatnya merasa hidup… ternyata tidak pernah berniat tinggal.
Malam itu, Bintang duduk sendirian di ruang tamu.
Sunyi.
Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada siapa-siapa.
Ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini ia abaikan:
Gairah bisa datang dan pergi.
Perasaan bisa berubah.
Tapi rumah… tidak selalu memberi kesempatan kedua.
Puber kedua membuatnya merasa hidup kembali.
Namun di akhir cerita, yang tersisa hanyalah satu kenyataan bahwa, Ia kehilangan semuanya. (atp/fer/habis)
Sumber:







