Dalam proses transisi spiritual ini, Vanessa tidak sendirian. Ada dua sosok lelaki yang menjadi pilar kekuatannya: sang suami, Sigit Pradigta dan almarhum ayahnya. Keduanya memberikan dukungan penuh dan telaten membimbing Vanessa memahami syariat Islam.
"Suami dan almarhum Papa adalah sosok yang paling berpengaruh dalam proses saya menjadi seorang mualaf," ungkapnya dengan nada haru.
BACA JUGA:Titik Balik Spiritual Seorang Mantan Pendosa: Dulu Mengumpat Azan, Kini Merindukan Tarawih
Tentu saja, jalan menuju cahaya tidak selalu mulus. Vanessa sempat menghadapi tantangan dari lingkungan keluarga terdekat. Bagaimana pun, perpindahan keyakinan adalah isu sensitif yang sulit diterima seketika oleh semua pihak.
BACA JUGA:Perjalanan Sunyi Andik Mencari Kebenaran Iman, Gagal Jadi Pastor Malah Temukan Islam
Namun, Vanessa memilih jalan kesabaran dan pendekatan persuasif. "Saya sangat memahami dan terus memberikan pengertian kepada pihak keluarga secara persuasif hingga akhirnya keluarga bisa menerima keputusan yang saya ambil untuk menjadi seorang muslimah," papar Vanessa.
BACA JUGA:Transformasi Niluh Putu Eka Menjadi Muslimah, Gema Azan di Langit Denpasar yang Mengubah Takdir
Seiring berjalannya waktu, kekaguman Vanessa terhadap Islam kian menebal, terutama pada aspek adab.
Ia terpesona melihat bagaimana Islam mengatur detail kehidupan manusia, memberikan batasan yang jelas, namun tetap menjunjung tinggi etika terhadap sesama.
BACA JUGA:Perjalanan Iman dan Toleransi Tanjaya, Cahaya Hati di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya
"Ternyata di Islam itu semuanya diatur, jadi tidak ada kebebasan yang absolut. Sehingga kita sebagai umat manusia memiliki norma dan Batasan,” beber Vanessa.
BACA JUGA:Ikhtiar Icha Yustin Kwandou Mendalami Makna Tauhid, Antara Restu Ibu dan Panggilan Kalbu
“Menurut saya itu hal positif agar kita bisa saling menghargai dan menghormati ke sesama umat manusia di dunia ini meskipun kita berbeda-beda suku, budaya, maupun agama," sambungnya.
BACA JUGA:Sujud Teduh Putri Pendeta Gereja Bethany, Jemput Hidayah Lewat Kepolosan Sang Buah Hati
Momen paling sakral yang sulit ia lupakan adalah saat lidahnya kali pertama melafalkan dua kalimat syahadat. Ada gejolak haru dan bangga yang membuncah di dadanya.
BACA JUGA:Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh