SETELAH semua percakapan panjang, nasihat keluarga, dan tekanan dari berbagai arah, rumah itu akhirnya kembali sunyi.
Tidak ada lagi perdebatan. Tidak ada lagi rapat keluarga. Hanya dua orang yang duduk berhadapan di ruang tamu yang dulu terasa hangat.
Bintang tampak lelah. Seolah setiap orang di sekelilingnya sudah memberi jawaban, kecuali dirinya sendiri.
Bulan menatapnya dengan tenang. Tidak ada lagi air mata. Ia sudah melewati tahap itu.
Mini Kidi Wipes.--
“Mas,” katanya pelan, “aku tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian seperti ini.”
Bintang menghela napas panjang. “Aku masih mencoba mencari jalan yang baik untuk semua orang.”
“Kadang tidak ada jalan yang membuat semua orang bahagia,” jawab Bulan. “Kadang yang ada hanya pilihan.”
Bintang terdiam.
Ia selalu mengira bahwa poligami adalah soal kemampuan berbagi. Namun sekarang ia mulai memahami sesuatu yang lebih sulit: keputusan itu bukan hanya menambah satu orang, tetapi mengubah seluruh hidup yang sudah ada.
“Aku tidak ingin kehilangan kamu,” katanya pelan.
Bulan tersenyum tipis. “Tapi kamu juga tidak ingin kehilangan keinginanmu menikah lagi.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan. Justru karena itu terasa lebih jujur.
“Aku hanya ingin menjadi ayah,” kata Bintang lirih.
Bulan menunduk sebentar, lalu menatap suaminya kembali. “Aku mengerti keinginan itu. Tapi aku juga harus jujur pada diriku sendiri.”