Ruangan terasa berat.
“Aku tidak bisa hidup dalam pernikahan yang harus kubagi,” lanjut Bulan. “Bukan karena aku membenci perempuan yang akan datang. Tapi karena aku tahu diriku sendiri.”
Bintang menatapnya lama. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa pilihan ini tidak pernah benar-benar netral. Apa pun yang ia pilih, ada sesuatu yang harus ia lepaskan.
“Kalau aku tetap menikah lagi?” tanyanya pelan.
Bulan mengangguk kecil. “Berarti jalan kita berhenti di sini.”
Tidak ada ancaman dalam kalimat itu. Hanya kejujuran yang akhirnya diucapkan.
Malam itu, Bintang duduk lama sendirian di ruang tamu setelah Bulan masuk ke kamar. Ia memikirkan semua yang telah dikatakan orang-orang di sekelilingnya: tentang keturunan, tentang agama, tentang hak laki-laki.
Namun untuk pertama kalinya ia juga memikirkan sesuatu yang lebih sederhana: perempuan yang telah berjalan bersamanya selama bertahun-tahun.
Dalam banyak diskusi, poligami sering dibicarakan sebagai hak. Tapi jarang dibicarakan sebagai keputusan yang mengubah hidup banyak orang.
Dan bagi Bintang, malam itu menjadi titik di mana ia harus benar-benar bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah ia siap menambah satu kehidupan baru…
jika itu berarti kehilangan kehidupan yang sudah ia miliki.
Gempur Rokok Illegal--
Cerita ini tidak berakhir dengan jawaban yang mudah.
Karena dalam beberapa keputusan hidup, yang paling sulit bukan memilih siapa yang datang.
Melainkan menerima siapa yang harus pergi.