Kalimat sederhana itu menghancurkan sisa kemarahan Bulan.
Ini bukan tentang anak itu. Ini tentang suaminya.
“Kenapa aku baru tahu sekarang?” tanya Bulan malam itu.
Bintang menunduk. “Aku takut kehilangan kamu.”
“Kamu kehilangan aku justru karena kamu tidak jujur.”
Hari-hari berikutnya penuh ketegangan. Bintang ingin bertanggung jawab. Ia ingin mengakui. Ia ingin memperbaiki. Namun setiap niat baik datang bersama luka yang belum sembuh.
Bulan bergulat dengan perasaan yang tak pernah ia pilih: cemburu pada masa lalu, marah pada kebohongan, dan iba pada seorang anak yang tidak pernah meminta dilahirkan dalam situasi rumit.
Gempur Rokok Illegal--
Suatu malam, Bulan berkata dengan suara tenang, “Aku bisa menerima kenyataan. Tapi aku tidak bisa menerima kebohongan.”
Bintang terdiam. Ia akhirnya sadar bahwa tanggung jawab bukan hanya soal memberi nafkah atau mencantumkan nama di akta. Tanggung jawab adalah keberanian menghadapi konsekuensi, bahkan jika itu berarti mengubah seluruh hidup.
Cerita ini bukan tentang anak haram. Tidak ada anak yang lahir membawa dosa.
Yang ada hanyalah keputusan orang dewasa yang harus dipertanggungjawabkan.
Dan bagi Bulan, ujian terberat bukan menerima anak itu.
Melainkan memutuskan apakah ia masih bisa mempercayai laki-laki yang berdiri di sampingnya.