Kasus Gangguan Jiwa Anak Akibat Perundungan Terus Meroket

Senin 23-02-2026,11:43 WIB
Reporter : Lailatul Nur Aini
Editor : Muhammad Ridho

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Kasus gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja akibat perundungan (bullying) di Rumah Sakit (RS) Menur menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam empat tahun terakhir. 

Data kunjungan pasien anak di bawah 18 tahun terus bertambah setiap tahun, mulai dari 106 kunjungan pada 2022, meningkat menjadi 128 kunjungan pada 2023, lalu 148 kunjungan pada 2024, dan melonjak hingga 232 kunjungan pada 2025.

BACA JUGA:Dua Kasus Bullying Mencuat, Status Surabaya Kota Layak Anak Jadi Sorotan


Mini Kidi Wipes.--

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Menur, dr. Rifatul Hasna M.Kes, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap.

"Apabila di lihat dari data kami, trennya naik setiap tahun. Ini tentu miris, karena artinya kasus yang berkaitan dengan bullying terus bertambah," kata dr Hasna, kepada Memorandum, Senin, 23 Februari 2026.

BACA JUGA:Kasus Bullying di Surabaya Meningkat, Psikolog Tekankan Pentingnya Penanganan Sistematis Bukan Sekadar Viral


Gempur Rokok Illegal--

Menariknya, sebagian besar pasien tidak datang dengan keluhan utama sebagai korban perundungan. Banyak anak dibawa ke rumah sakit karena perubahan perilaku yang tiba-tiba.

"Ada yang awalnya baik-baik saja, punya banyak teman, rajin sekolah, berprestasi, tapi tiba-tiba menarik diri. Ada juga yang menjadi sulit diatur, emosinya meledak-ledak. Setelah digali lebih dalam oleh psikiater dan psikolog, baru ditemukan akar masalahnya ternyata bullying," jelas dr Hasna. 

Ia menegaskan, bullying bukanlah diagnosis medis, melainkan pemicu yang dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).

BACA JUGA:Viral Video Bullying Anak, Pemkot Surabaya Gerak Cepat Dampingi Korban hingga Psikiater

Fenomena yang tak kalah memprihatinkan adalah perundungan yang terjadi di lingkungan keluarga. Ejekan soal fisik, perbandingan dengan saudara, hingga kata-kata yang merendahkan dapat menjadi luka psikologis bagi anak.

"Kadang orang tua merasa itu hal biasa. Tapi bagi anak, itu bisa sangat menyakitkan dan membekas," ujarnya. 

Ia menekankan bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak. Namun dalam banyak kasus, konflik orang tua, pola asuh tidak konsisten, hingga kurangnya bonding justru menjadi pemicu masalah.

Kategori :