RUMAH itu tidak lagi berisik oleh suara notifikasi. Bukan karena semuanya selesai, tetapi karena Bintang akhirnya mematikan ponselnya sendiri. Ia duduk di ruang tamu dengan wajah lelah, seperti seseorang yang baru sadar ia tersesat terlalu jauh.
Bulan berdiri di depannya, bukan dengan amarah, tapi dengan keputusan.
“Aku tidak bisa hidup seperti ini,” katanya pelan, namun tegas. “Aku bisa terima kita susah. Aku bisa terima kita mulai dari nol. Tapi aku tidak bisa terima kamu terus bohong dan mempertaruhkan hidup kita.”
Mini Kidi--
Bintang tidak membantah. Tidak ada lagi kalimat “hampir menang” atau “tinggal sedikit lagi”. Yang ada hanya diam panjang yang penuh rasa bersalah.
“Aku akan lunasi,” katanya akhirnya.
“Bukan cuma itu,” potong Bulan. “Masalahnya bukan utang. Masalahnya kamu.”
Bintang menatapnya, dan untuk pertama kalinya ia melihat ketakutan yang berbeda di mata istrinya. Bukan takut miskin. Tapi takut kehilangan dirinya sendiri karena hidup bersama seseorang yang kecanduan.
“Aku kasih kamu satu kesempatan terakhir,” lanjut Bulan. “Berhenti total. Tutup semua akun. Datang ke konseling. Atau aku yang berhenti dari pernikahan ini.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan ancaman. Ia diucapkan dengan kesadaran.
Bintang menunduk. Ia tahu ini bukan drama. Ini batas.
“Aku takut,” katanya lirih. “Kalau aku berhenti, kita tetap nggak punya apa-apa.”
Bulan mendekat. “Kita mungkin nggak punya banyak uang. Tapi kita masih punya satu sama lain. Itu lebih cukup daripada jackpot palsu yang nggak pernah datang.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, Bintang menghapus aplikasinya di depan Bulan. Ia menghubungi konselor adiksi yang direkomendasikan temannya. Bukan karena yakin akan langsung sembuh, tapi karena ia sadar kehilangan keluarganya jauh lebih menakutkan daripada kehilangan sensasi judi.
Perjalanan tidak selesai dalam sehari. Tagihan masih ada. Telepon penagihan masih datang. Tapi ada satu hal yang berubah: Bintang tidak lagi sendirian melawan dan tidak lagi bersembunyi.