Suamiku dan Mesin Keberuntungan: Saat Utang Mengetuk Pintu (2)

Kamis 19-02-2026,09:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Angka itu seperti gema panjang di ruang tamu kecil mereka.

“Empat puluh juta dari mana?” suara Bulan mulai bergetar. “Uang belanja saja kamu kurangi, tapi kamu pinjam empat puluh juta?”

Bintang mengusap wajahnya. “Aku hampir menang waktu itu. Tinggal sedikit lagi. Kalau menang, semua lunas.”

“Kalau,” potong Bulan. “Hidup kita bukan soal ‘kalau’, Bintang.”

Untuk pertama kalinya, Bintang tidak membela diri. Ia duduk di kursi dengan tubuh lunglai. Sensasi yang dulu membuatnya hidup kini berubah menjadi ketakutan yang menekan.

Sejak hari itu, telepon tak pernah berhenti. Pesan masuk bertubi-tubi. Ancaman halus berubah menjadi kasar. Nama Bulan bahkan ikut disebut dalam pesan penagihan.

“Aku nggak pernah pinjam,” kata Bulan dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa namaku ikut dipakai?”

Bintang menunduk. “Aku pakai data kamu biar cepat cair.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu yang lebih besar dari uang: kepercayaan.

Malam itu, Bulan duduk di tepi tempat tidur dan berkata pelan, “Kamu bukan cuma berjudi dengan uang. Kamu berjudi dengan nama aku. Dengan masa depan anak kita.”

Bintang menangis untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai. Bukan karena kalah. Bukan karena ditagih. Tapi karena ia sadar, mesin keberuntungan yang ia percayai ternyata hanya memutar hidupnya ke titik terendah.

Utang tidak hanya mengetuk pintu rumah. Ia mengetuk harga diri. Ia mengetuk rasa aman. Ia mengetuk masa depan.

Dan dalam rumah tangga itu, bukan hanya uang yang harus dibayar

melainkan luka yang tak terlihat tapi terasa nyata.

Kategori :