Marhaban ya Ramadan 2026

Suamiku dan Mesin Keberuntungan: Saat Utang Mengetuk Pintu (2)

Suamiku dan Mesin Keberuntungan: Saat Utang Mengetuk Pintu (2)

-Ilustrasi-

KETUKAN itu datang pagi hari.

Bukan seperti tamu biasa. Tidak sabar. Tidak sopan.

Bulan sedang menyapu ketika pintu digedor keras. Ia membuka dengan jantung berdebar. Dua pria berdiri di depan rumah dengan wajah tanpa senyum.


Mini Kidi--

“Suaminya ada?” salah satu dari mereka bertanya.

“Untuk apa?” tanya Bulan hati-hati.

“Kami dari penagihan.”

Kalimat itu seperti menjatuhkan sesuatu di dadanya.

Bintang keluar dari kamar dengan wajah pucat. Ia tidak perlu bertanya apa yang terjadi. Ia tahu. Nomor-nomor yang selama ini ia anggap bisa dikejar, kini datang menagih dengan suara dan tubuh nyata.

“Mas, sudah lewat jatuh tempo,” kata pria itu tegas. “Kalau tidak dibayar, kami akan datangi terus.”

Setelah mereka pergi, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Bulan menutup pintu pelan, lalu berbalik menatap suaminya.

“Berapa?” tanyanya tanpa emosi.

Bintang tidak langsung menjawab. “Nggak banyak,” katanya pelan.

“Berapa?” ulang Bulan, kali ini lebih tegas.

Sumber: