selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Di Antara Dua Kota: Ketika Cinta Diuji oleh Jarak (1)

Di Antara Dua Kota: Ketika Cinta Diuji oleh Jarak (1)

-Ilustrasi-

AWALNYA hanya enam bulan.

Bintang menerima tawaran kerja di luar kota dengan alasan yang masuk akal: jenjang karier lebih baik, penghasilan meningkat, masa depan keluarga lebih terjamin. Bulan mendukung tanpa banyak protes. “Kalau ini untuk kita, aku bisa kuat,” katanya waktu itu.

Enam bulan berubah menjadi satu tahun.


Mini Kidi Wipes.--

Video call menjadi pengganti makan malam bersama. Pesan singkat menggantikan obrolan panjang sebelum tidur. Awalnya manis. Rindu terasa romantis. Setiap pertemuan di bandara seperti adegan film yang menyenangkan.

Namun jarak tidak hanya menguji kesetiaan. Ia juga menguji kedewasaan.

Suatu malam, saat sinyal buruk memotong percakapan mereka, Bulan berkata pelan, “Kamu berubah.”

“Berubah bagaimana?” tanya Bintang.

“Kamu lebih cepat marah. Lebih cepat menutup telepon.”

Bintang lelah. Tekanan kerja di kota baru tidak ringan. Ia merasa tidak dipahami. “Aku capek, Bulan. Jangan ditambah.”

Kalimat itu sering muncul. “Jangan ditambah.”


Gempur Rokok Illegal--

Lama-lama, Bulan berhenti bercerita. Ia tidak lagi mengeluh soal anak yang sakit atau atap yang bocor. Ia memilih menyelesaikan semuanya sendiri. Bukan karena tidak butuh suami, tapi karena merasa suaminya sudah terlalu jauh untuk benar-benar hadir.

Di sisi lain kota, Bintang mulai menikmati kebebasan kecil yang dulu tidak ia rasakan. Tidak ada yang bertanya jam pulang. Tidak ada yang menegur kalau makan terlambat. Rekan kerja menjadi lebih dari sekadar rekan. Ada tawa yang terasa ringan karena tidak dibebani tanggung jawab rumah.

Sumber: