Labuhan Terakhir Ismail, Dari Taiwan Menjemput Cahaya Islam di Sidoarjo
Yao Yufeng, WNA asal Taiwan yang kini bernama Ismail bersama istri tercinta (tengah) dan kerabatnya. -Lailatul Nur Aini-
SUARA bergetar itu memecah kesunyian ruangan sederhana Mualaf Center Nasional Aya Sofya, Tanggulangin, Sidoarjo pada 24 Januari 2022.
Yao Yufeng, pria asal Taiwan, dengan mantap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menandai babak baru dalam hidupnya.
BACA JUGA:Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh
Sejak hari itu, ia resmi memeluk Islam dan memilih nama Ismail sebagai identitas muslimnya. Perjalanan Ismail menuju titik ini bukanlah proses kilat yang terjadi dalam semalam.
Sebagai seorang guru sejarah, Ismail memiliki naluri alamiah untuk selalu mencari, membaca, dan membandingkan berbagai peradaban serta kepercayaan.
Sejak muda, ia telah melanglang buana secara intelektual, membedah ajaran Yahudi, Katolik, hingga Islam untuk menemukan jawaban atas kegelisahan batinnya.
"Saya melihat ada banyak kesamaan cerita dalam agama-agama itu," tuturnya tenang.
BACA JUGA:Transformasi Keyakinan Berliana Murphi, Dari Keraguan Menuju Kemantapan Berislam
Ia memberikan contoh kisah Nabi Nuh dalam Islam yang juga dikenal sebagai Noah dalam tradisi Kristen.
Baginya, benang merah tersebut menunjukkan bahwa agama-agama besar memiliki akar spiritual yang saling terhubung.
Namun, setelah pengembaraan literasi yang panjang, Islam terasa paling menetap dan "lengkap" di hatinya.
"Islam menurut saya sudah sempurna. Aturannya jelas, nilai hidupnya kuat, dan menjawab banyak pertanyaan saya," ucap Ismail.
Sebelum benar-benar bersyahadat, Ismail mengaku sempat berada di fase ateis, meski secara kultural ia merasa lebih condong pada nilai-nilai Katolik.
Namun, pencarian makna hidup yang lebih dalam terus menyeretnya untuk melangkah lebih jauh.
Sumber:




