Sang guru wali kelas menyadari bahwa uang senilai tujuh puluh lima ribu rupiah miliknya telah raib dari tempatnya.
BACA JUGA:Pembuktian dari Indonesia Arena
Kegelisahan berubah menjadi kecurigaan, dan kecurigaan beralih menjadi penghakiman.
Pintu kelas ditutup, dan pencarian dimulai.
Satu per satu tas milik dua puluh dua siswa digeledah. Buku-buku dan alat tulis berserakan, namun lembaran yang dicari tak kunjung menampakkan diri.
BACA JUGA:Sampah Pantai dan Teguran Keras Presiden
Di titik inilah, logika pendidikan seolah mati suri. Rasa cemas akan kehilangan materi telah membutakan mata hati seorang pendidik.
Perintah itu pun jatuh: sebuah instruksi yang tak masuk akal, memaksa anak-anak kecil itu untuk menanggalkan busana mereka demi sebuah pembuktian.
Kini, di bawah langit, luka itu tetap membekas. Rasa aman yang telah hancur dari dada dua puluh dua anak itu adalah kerugian yang tak akan pernah bisa dihitung jumlahnya.