Sebuah cerita pilu terselip di antara dinding-dinding kelas.
Seorang anak, yang berangkat dengan tas penuh mimpi dan seragam yang rapi, harus pulang dengan jiwa yang koyak.
Bukan karena pelajaran yang sulit, melainkan karena tangan yang seharusnya membimbing, justru menanggalkan pelindung raganya.
BACA JUGA:Warisan Suami dan Perlindungan Hak Istri
Mini Kidi--
Dua puluh dua siswa harus berdiri tanpa busana, dipaksa melepaskan harga dirinya demi membuktikan ketidaksalahan.
Pada detik kain seragam itu jatuh ke lantai, yang terenggut bukan hanya selembar kain, melainkan rasa percaya dan marwah mereka sebagai manusia.
Sejatiya, seragam sekolah bukan sekadar kain. Ia adalah identitas, kehormatan, dan rasa aman seorang siswa.
BACA JUGA:Ketika Tertawa Tidak Lagi Gratis
Ketika atas nama "disiplin" pakaian itu ditanggalkan secara paksa, yang jatuh ke lantai bukan hanya kain katun, melainkan martabat sang anak.
Menelanjangi siswa adalah cara paling cepat untuk membunuh keberaniannya dan mengubur kepercayaan dirinya dalam-dalam
Luka itu mungkin tak berdarah, namun bekasnya akan menetap lebih lama dari angka-angka di buku rapor.
BACA JUGA:Indah di Spanduk Hampa di Ruang Redaksi
Kejadian viral ini bermula dari sebuah kehilangan yang sederhana, namun berakhir pada duka yang luar biasa.
Di sebuah sekolah dasar, suasana pagi yang seharusnya riuh dengan doa dan harapan, mendadak berubah menjadi mencekam.