Cerita Pilu Ibu di Surabaya Dianiaya Anak Kandung, Dipicu Dendam Lama
Upik (53) korban penganiayaan yang dilakukan oleh Risky Agustino, anaknya sendiri menceritakan kisah pilunya--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Cerita pilu terjadi di Kota Pahlawan. Seorang anak tega melakukan penganiayaan terhadap sang Ibu kandung sejak Desember 2025.
Korbannya adalah UK (53) tinggal di Sukomanunggal, Surabaya. Pelakunya ada Risky A. Lelaki berusia sekitar 30 tahunan itu merupakan darah dagingnya sendiri. Kini pelaku sudah ditangkap polisi dan langsung dijebloskan ke penjara sejak Jumat 6 Februari 2026 lalu.
BACA JUGA:Pilu, Siswi SMP Asal Surabaya Disekap dan Diperkosa Sekelompok Remaja di Gresik

Mini Kidi Wipes.--
Ketika ditemui Memorandum pada Senin 23 Februari 2026 siang, Upik masih terlihat tak berdaya. Dia terbaring di sebuah kasur lantai. Untuk beranjak dari tempat tidurnya saja masih susah payah mengerahkan tenaganya. Jalannya gontai. Tenyata dia juga menderita stroke.
Upik bercerita, sebelumnya Risky bekerja di Bali sebagai tukang servis perkakas elektronik. Dia di Surabaya sejak Juni 2025. Saat itu, Upik ditinggal sang suami. Sehingga, keluarganya menghubungi Risky agar pulang dari perantauan dengan maksud untuk merawat Upik beserta NF (11), adiknya.
"Di Bali sejak tahun 2023. Juni 2025 itu baru pulang dari Bali, karena saya cuma tinggal berdua dengan adiknya yang masih duduk di kelas enam SD," katanya sambil terbata-bata.
BACA JUGA:Pilu! Gadis Gresik Jadi Korban Asusila Ayah Kandung Selama 4 Tahun, Terungkap Usai Lapor Ibu

Gempur Rokok Illegal--
Risky memang dikenal berwatak keras. Sudah dari lama bicaranya kasar pada Upik. Tapi baru berani melakukan kekerasan fisik terhadapnya sejak Desember 2025. Penganiayaan yang dilakukan juga tidak diketahui alasannya.
"Mulai dipukuli sejak Desember 2025. Setiap hari dipukuli. Gak tau, gak ada sebabnya. Tetangga sudah tau semua. Terus ada tetangga yang lapor kemudian polisi ke sini," lanjutnya.
Sejak Desember 2025 hingga Februari 2026, kekerasan yang dilakukan Risky terhadap Upik itu selalu ketika kondisi rumah sepi. Hanya mereka berdua: ketika NF sedang tidak di rumah atau sekolah. Penganiayaannya pun beragam. Tapi tak pernah menggunakan senjata tumpul atau tajam.
"Kemarin itu kaki, tangan itu gosong lebam semua. Ini kepala belakang masih benjol. Dipukuli pakai tangan mengepal. Dicekik pernah, dihantamkan ke tembok juga pernah," terangnya.
BACA JUGA:Kisah Pilu Putri di Surabaya Putus Sekolah karena Ekonomi, Pemkot Fasilitasi Kejar Paket C
Sumber:





