SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Transformasi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya menjadi RS Menur belum lama ini mendapat respons positif dari masyarakat.
Rebranding ini juga diperkenalkan melalui video singkat di media sosial resmi rumah sakit itu, dinilai berhasil mengikis stigma negatif pada layanan kesehatan mental.
Mini Kidi--
Direktur RS Menur Surabaya, drg. Vitria Dewi, M.Si, menyampaikan bahwa perubahan nama dan wajah rumah sakit menjadi bagian dari upaya edukasi publik agar masyarakat tidak lagi takut atau malu mengakses layanan kesehatan jiwa.
"Waktu rebranding yang kita lakukan, kita menghilangkan stigma dan mengedukasi masyarakat. Jadi kalau ada peningkatan kunjungan, itu karena pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental sudah mulai berubah. Mereka tidak malu lagi untuk datang," kata Vitria, kepada Memorandum, Senin, 2 Februari 2026.
Mini Kidi--
Ia juga mengaku adanya peningkatan pasien di rumah sakit tersebut. Menurutnya, peningkatan jumlah pasien dapat dimaknai dari dua sisi. Di satu sisi, kesadaran masyarakat untuk mencari pertolongan semakin baik.
Namun di sisi lain, tekanan hidup yang semakin kompleks juga berkontribusi pada meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental.
RS Menur mencatat kenaikan kunjungan baik pada layanan rawat jalan maupun rawat inap, termasuk pada pasien anak dan remaja. Vitria menyebut, gangguan kesehatan mental kini dialami oleh hampir semua kelompok usia.
"Rentang usia sangat luas. Ada yang muda-muda itu kena gangguan karena kecanduan gadget itu usia 14 tahun, sementara yang tertua bisa sampai 70 tahun," terang Vitria.
Untuk anak-anak, faktor pemicu gangguan kejiwaan beragam, mulai dari masalah hubungan dengan orang tua, pola asuh (parenting), game online, hingga kasus perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.
Sementara itu, pada kelompok usia dewasa muda dan usia produktif, yakni sekitar 19 hingga 40 tahun, kasus yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan tekanan ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan.
"Usia produktif itu yang paling banyak. Tekanan ekonomi sangat berpengaruh, termasuk persoalan PHK, kesulitan pekerjaan atau usia, bahkan ada masalah pinjaman online. Ada yang datang dengan kondisi percobaan bunuh diri," pungkas Vitria. (Ain)