DULU, pulang kerja adalah saat yang paling dinanti oleh Bintang. Wajah Bulan dan kedua anak mereka selalu berhasil meredam letih. Makan malam sederhana, obrolan receh anak-anak, serta pelukan hangat dari Bulan menjadi penghapus stres dari pekerjaan.
Namun, semua itu mulai berubah sejak Bintang mendapat promosi menjadi manajer di perusahaannya.
Mini Kidi--
Awalnya, Bulan ikut bahagia. Ia mengirimkan kue kecil bertuliskan “Congrats, Mas!” ke kantor Bintang, lengkap dengan kartu ucapan bergambar tangan anak-anak mereka. Tapi seiring waktu, jabatan yang awalnya dianggap sebagai berkah, mulai terasa seperti kutukan bagi kehidupan rumah tangga mereka.
Bintang mulai sering pulang larut. Alasan lembur, rapat, atau makan malam bersama klien jadi pengganti waktu keluarga. Bahkan saat berada di rumah, pikirannya tetap sibuk memikirkan laporan dan target.
"Mas, anak-anak tanya kenapa Mas nggak pernah lagi ikut makan malam bareng," ucap Bulan suatu malam saat meja makan hanya diisi olehnya dan dua buah hati mereka.
"Hari ini banyak banget kerjaan, Bulan. Besok aku kompensasi, ya," jawab Bintang, tanpa menatap istrinya. Matanya tetap terpaku pada layar laptop.
Kompensasi yang tak pernah datang.
Tak hanya waktu yang menghilang, sikap Bintang pun perlahan berubah. Ia mulai merasa superior, sering menyela omongan Bulan, bahkan menganggap remeh usulan atau keluh kesah istrinya.
“Mas, aku rasa kita butuh ngobrol. Aku merasa kita semakin jauh…”
“Ah, kamu tuh terlalu sensitif. Aku kerja buat kalian juga, kok malah dikeluhkan,” potong Bintang dingin.
Bulan diam. Tangannya menggenggam cangkir teh yang mulai dingin. Ia merindukan sosok suaminya yang dulu lelaki yang hangat, yang melibatkan dirinya dalam keputusan-keputusan kecil, yang menganggap keluarga sebagai prioritas, bukan gangguan.
Di kantor, Bintang justru terlihat semakin percaya diri. Ia mulai menikmati sorotan, penghargaan, dan bahkan pujian dari rekan-rekan wanita yang dulu tak pernah meliriknya. Ucapan-ucapan kecil seperti “Wah, keren banget sih sekarang, Pak Bintang!” mulai membuat egonya membumbung tinggi.
Sayangnya, semua pencapaian itu tak membuat hatinya makin kaya, justru makin miskin waktu dan kasih sayang bagi keluarga. Pada akhirnya, Bulan hanya bisa menatap langit-langit kamar mereka setiap malam, bertanya dalam hati, “Apakah ini harga dari sebuah promosi?”
Dan di sisi lain kota, Bintang terjebak dalam kesibukan yang diciptakannya sendiri sibuk membangun karier, sambil perlahan-lahan merobohkan rumah tangga yang pernah ia janjikan akan dijaga.