Bulan, yang diam-diam membaca unggahan itu, menangis. Tapi kali ini bukan karena sakit, melainkan karena akhirnya, Bintang belajar. Sayangnya, belajar setelah segalanya hancur.
Pernikahan adalah ibadah. Dan dalam ibadah, dibutuhkan kesabaran, bukan ego. Talak bukan senjata, melainkan jalan darurat terakhir. Seringkali, yang hancur bukan hanya cinta, tapi masa depan anak-anak yang jadi korban.
Bintang dan Bulan telah menjadi saksi: bahwa lisan bisa membangun rumah, tapi juga bisa meruntuhkannya. Dan luka karena talak tiga bukan hanya soal status, tapi tentang kehilangan makna “rumah”.
Jaga lisan, jaga emosi. Karena menyesal tak pernah bisa membangun ulang rumah yang telah runtuh oleh kata-kata.