Ia kehilangan rumah, anak-anak, dan perempuan yang selama ini paling mengenalnya. Tapi semua sudah terlambat. Talak tiga bukan permainan. Ia sah, dan tidak bisa ditarik kembali dengan sekadar maaf.
Malamnya, Bintang berdiri di depan rumah mertua. Ia ingin bicara. Bulan keluar, mengenakan mukena.
“Sudah cukup, Bintang. Kamu tak hanya menceraikan aku, kamu menceraikan dirimu sendiri dari tanggung jawab. Ini bukan soal cinta yang hilang, tapi tentang lisan yang tak dijaga.”
Bintang terdiam.
“Jika kamu ingin memperbaiki semuanya, perbaikilah dirimu dulu. Jangan berharap semua bisa kembali seperti semula. Karena kata-kata punya konsekuensi, dan tak semua bisa ditambal hanya dengan penyesalan.”