Talak Tiga: Ketika Cinta Kalah Dengan Hukum (2)
-Ilustrasi-
“BOLEH nggak kalau kita rujuk, Ustaz?” suara Bintang bergetar saat akhirnya ia berani datang ke majelis pengajian yang dulu sering ia hindari.
Ustaz Malik menatapnya lekat. “Kamu yakin sudah mengucapkan talak sebanyak tiga kali, akhi?”

Mini Kidi--
Bintang mengangguk, walau dengan rasa malu. “Iya. Tapi saya nggak tahu kalau ucapan saat marah itu tetap sah.”
Ustaz Malik menarik napas dalam. “Talak tidak butuh saksi, tidak butuh surat, tidak butuh marah atau tidak. Jika telah diucapkan tiga kali, maka jatuhlah talak bain kubra. Artinya, kamu tak bisa rujuk kecuali istrimu menikah dengan laki-laki lain, dan itu pun tidak boleh direkayasa.”
Bintang terdiam. Kata-kata itu seperti menamparnya. “Tapi anak-anak saya, rumah saya… saya nggak bisa hidup tanpa mereka.”
“Seharusnya kamu pikirkan itu sebelum ucapan itu keluar. Islam mengajarkan ketegasan, tapi juga kehati-hatian. Talak itu bukan solusi instan, tapi pilihan paling akhir ketika semua jalan sudah buntu.”
Di rumah orang tuanya, Bulan berjuang menjaga kewarasannya. Ia sibuk mengurus tiga anak, bekerja dari rumah, dan menenangkan ibunya yang terus menyalahkan keadaan.
“Kamu tuh kenapa sih sampai ditalak tiga? Nggak bisa jaga suami?” ujar ibunya, entah bermaksud menyemangati atau justru menyayat hati.
“Aku nggak minta ditinggal, Bu. Tapi kalau cinta cuma bisa ditahan dengan amarah, itu bukan rumah. Itu penjara.”
Bulan mulai berkonsultasi dengan lembaga konseling. Ia ingin tahu apa haknya sebagai perempuan yang ditalak tiga. Ia ingin tahu bagaimana agar anak-anak tidak tumbuh dalam kebingungan.
Sementara itu, Bintang mulai dihantui realita. Ia mencoba mengurus surat cerai resmi. Tapi saat melihat nama Bulan dalam dokumen itu, hatinya hancur.
“Saya sadar, Pak, saya terlalu enteng main kata. Saya pikir bisa rujuk seperti dulu. Tapi sekarang saya sadar, ini bukan mainan,” katanya pada petugas KUA.
Petugas itu hanya mengangguk pelan. Sudah terlalu banyak kasus serupa. Laki-laki yang mengira bisa mempermainkan talak, lalu menyesal ketika kenyataan tak bisa dibatalkan.
Sumber:
