Talak Tiga: Terlalu Mudah Mengucap, Terlalu Berat Menanggung (1)

Talak Tiga: Terlalu Mudah Mengucap, Terlalu Berat Menanggung (1)

-Ilustrasi-

BULAN memandangi pantulan wajahnya di cermin. Ada garis-garis lelah di sana bukan karena umur, tapi karena luka yang tak sembuh-sembuh. Di luar kamar, suara televisi masih menyala, tapi tak ada percakapan. 

Suaminya, Bintang, duduk di sofa seperti orang asing. Pernikahan mereka telah melewati begitu banyak pertengkaran kecil yang berubah menjadi badai, dan pada malam itu, badai itu mencapai puncaknya.


Mini Kidi--

“Aku talak kamu!” bentak Bintang dengan suara yang mengguncang dinding.

Itu adalah talak ketiga. Tidak dengan perhitungan matang, tidak setelah proses islah, tapi dalam amarah. 

Sebelumnya, dua kali ia sudah pernah mengucapkannya di tahun-tahun berbeda, lalu rujuk. Tapi malam itu, semuanya berakhir.

Bulan berdiri diam. Matanya membasah, tapi mulutnya tak sanggup bicara. Anak-anak mereka sudah tidur. 

Dunia di luar rumah tetap berjalan, tapi dunia di dalam rumah itu seakan berhenti. Tiga kata itu terasa seperti palu yang menghancurkan semua kenangan baik yang pernah mereka punya.

“Kenapa kamu begitu ringan melontarkan itu?” tanya Bulan perlahan, suaranya nyaris tak terdengar.

Bintang menghela napas, menyesal, tapi gengsi menelannya. “Aku emosi. Tapi kamu juga… kamu nggak pernah ngerti aku.”

Bulan menunduk. Ia tahu rumah tangga mereka sudah lama retak, tapi ia tak pernah menyangka akan runtuh hanya karena lisan suami yang tak terkendali.

Keesokan paginya, Bulan mendatangi ustazah dekat rumah untuk meminta nasihat. Setelah mendengar cerita Bulan, ustazah menggeleng pelan. 

“Nak, talak tiga itu tak main-main. Kau sudah bukan istrinya lagi. Bahkan kalau mau rujuk, harus lewat tahapan yang sangat berat: menikah dengan laki-laki lain, bercerai, baru bisa kembali. Itupun jika Allah ridha.”

Bulan merasa tubuhnya gemetar. Ia tak sanggup membayangkan hidup dengan pria lain hanya demi kembali ke ayah dari anak-anaknya.

Sumber: