Child Grooming dan Luka Psikologis Jangka Panjang

Selasa 13-01-2026,08:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Eko Yudiono

BROKEN Strings yang ditulis oleh Aurelie Moeremans membuka ruang diskusi yang sangat penting dan mendalam:

praktik child grooming suatu bentuk kekerasan seksual yang bekerja secara halus, bertahap, dan manipulatif bukan langsung dalam bentuk kasar yang mudah dikenali.

Pengalaman pribadinya sejak usia remaja membuka banyak mata bahwa predator tidak selalu memakai wajah jahat yang kentara.

Mereka kerap muncul sebagai sosok yang peduli, ramah, dan sejalan dengan kebutuhan emosional korban sehingga proses eksploitasi berlangsung pelan, tertutup, dan sulit dikenali sejak awal.   

Dalam buku itu, Aurelie menggambarkan bagaimana pelaku memulai interaksi dengan membangun kepercayaan, menampilkan diri sebagai teman berbicara yang penuh perhatian, lalu secara bertahap memberikan pujian, hadiah, dan waktu khusus.

BACA JUGA:Antara Tuntutan Perubahan dan Penolakan Jagal


Mini Kidi--

Taktik ini bertujuan menciptakan ikatan emosional yang membuat korban merasa dipahami dan “istimewa”padahal yang terjadi adalah manipulasi psikologis yang memosisikan pelaku sebagai figur dominan dalam relasi itu.   

Seiring waktu, pelaku mulai mengisolasi korban dari teman dan keluarga, baik secara halus dengan saran yang tampak munasabah, maupun melalui pengaruh emosional yang membuat korban selektif dalam memilih siapa yang bisa dia percaya.

Ini yang membuat child grooming sering terlalu terlambat dikenali oleh korban sendiri bahkan baru disadari ketika dampak psikologisnya sudah mendalam dan terbawa hingga dewasa.   

Pakar psikologi klinis menjelaskan bahwa grooming bukan sekadar tindakan sekali atau dua kali; ia adalah proses bertahap yang disengaja.

Mulai dari pemberian perhatian berlebihan, penciptaan rasa keterikatan emosional yang kuat, hingga manipulasi sehingga korban merasa sulit menolak permintaan pelaku.

Pola ini sering tidak melibatkan kekerasan fisik di tahap awal, sehingga keluarga dan lingkungan sosial tidak langsung mengidentifikasi adanya risiko.   

Lebih jauh lagi, dampak dari child grooming bukan hanya terkait pada eksploitasi seksual semata, tetapi juga melibatkan trauma psikologis jangka panjang.

Banyak korban, seperti yang dialami Aurelie, baru merasakan dampak emosionalnya saat dewasa ketika mereka menyadari bahwa apa yang terjadi pada masa muda bukan sekadar pengalaman buruk, tetapi pola manipulatif yang merusak perkembangan emosi dan kepercayaan diri mereka.   

Kisah nyata seperti yang diungkap Aurelie penting dipublikasikan bukan untuk menggugah rasa ingin tahu semata, tetapi untuk mengedukasi publik tentang bahayanya child grooming bahwa predator bisa berada di mana saja, termasuk di lingkungan yang dianggap aman.

Anak dan remaja membutuhkan perlindungan yang lebih dari sekadar larangan fisik; mereka membutuhkan pemahaman akan batasan hubungan yang sehat, kemampuan mengenali tanda manipulasi, dan lingkungan komunikasi terbuka dengan orang tua atau pendamping dewasa tepercaya.   

Kesadaran ini menjadi kunci pencegahan. Edukasi tentang tanda awal grooming perhatian berlebihan tanpa alasan jelas, isolasi dari keluarga/teman, hubungan yang dibangun secara tertutup harus disebarkan secara luas.

Ini bukan hanya untuk melindungi anak hari ini, tetapi juga untuk mencegah luka psikologis yang mungkin baru muncul puluhan tahun kemudian.

Catatan redaksi ini ingin menegaskan satu hal: kejahatan terhadap anak tidak selalu tampak jelas, dan kesadaran masyarakat adalah benteng pertama yang harus diperkuat.

Anak yang menjadi korban grooming bukanlah pihak yang bersalah; mereka adalah korban dari relasi manipulatif yang dibuat untuk mengeksploitasi.

Dan ketika cerita pribadi dipilih untuk dibagikan secara terbuka, itu bukan hanya tentang pengalaman individu itu adalah seruan bersama bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas nyata dalam setiap rumah, sekolah, dan komunitas.

Kategori :