PERUBAHAN hampir selalu menuntut pengorbanan.
Itu pula yang terjadi pada Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian.
RPH Pegirian dinilai tidak lagi layak oleh Pemkot Surabaya.
Bangunan ini berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka.
Usianya tua. Kondisinya terbatas. Lingkungannya makin padat.
Pemkot merencanakan pemindahan RPH ke Tambak Osowilangon.
Jaraknya sekitar 14 kilometer dari Pegirian.
Waktu tempuh sekitar 30 menit, itu pun jika lalu lintas lancar.
Jarak menjadi persoalan. Pedagang daging resah.
Mereka khawatir kualitas daging tidak lagi segar.
Gejolak juga datang dari komunitas jagal RPH Pegirian.
Mereka menolak dipindahkan jauh dari tempat kerja lama.
Puluhan tahun mereka menggantungkan hidup di Pegirian.
Istilah “jagal” sendiri perlu diluruskan.
Pada masa lalu, jagal adalah pemilik sapi yang menyembelih ternaknya sendiri.
Kini, sistem sudah berubah.
RPH menggunakan tenaga Juleha. (Juru sembelih halal) bersertifikat BNSP.
Mereka adalah pegawai resmi RPH, bukan milik perorangan.
Senin siang, 12 Januari 2026, Persatuan Jagal RPH Pegirian berunjuk rasa.
Aksi digelar di Gedung DPRD Surabaya. Alasannya satu: menolak pindah terlalu jauh dari Pegirian.
Unjuk rasa adalah hak. Protes pun sah.
Apalagi mereka telah bekerja di lokasi itu selama puluhan tahun.
Sebagian besar diduga tinggal tak jauh dari RPH Pegirian.
Pemindahan berarti biaya baru. Bensin bertambah. Waktu tersita. Pengeluaran meningkat.
Namun, perubahan tidak datang tanpa alasan.
Pemkot tentu tidak gegabah memindahkan RPH legendaris itu. Ada pertimbangan bisnis, kesehatan, dan strategi pasar.
RPH Tambak Osowilangon memiliki lahan sekitar 7.500 meter persegi.
Lebih luas. Lebih tertata. Pelayanan diharapkan lebih aman dan maksimal.
Bandingkan dengan RPH Pegirian. Sempit. Terhimpit permukiman. Sulit dikembangkan.
Aksi boleh berlanjut. Namun, solusi harus dicari. Titik temu harus ditemukan.
Ramadan sudah dekat. Lebaran menyusul. Kebutuhan daging umat muslim akan meningkat.
Jika polemik ini berlarut, dampaknya bisa luas. Rantai pasok terganggu. Ekonomi keluarga ikut tertekan.
Terutama bagi jagal dan pedagang daging. Perubahan perlu pengorbanan.
Tapi keadilan dan solusi tetap harus dikedepankan.