PERJALANAN baru dimulai dengan keberanian untuk meninggalkan luka yang lama.”
Tiga minggu berlalu sejak pergantian tahun. Di dinding ruang kerja kecilnya, sticky note resolusi Bulan masih menempel rapi. Tapi kehidupan baru tak selalu semulus kata-kata.
Mini Kidi--
Bulan kini benar-benar harus menghidupi diri dan anaknya. Tidak lagi ada transfer bulanan dari Bintang, yang perlahan juga menghilang dari kehidupan mereka seperti bayangan yang tak ingin dikenali. Di satu sisi, Bulan lega. Tapi di sisi lain, ia juga takut.
Takut tidak cukup. Takut gagal. Takut lelah sendirian.
Namun rasa takut itu tidak membuatnya berhenti.
Pagi-pagi, Bulan mengantar anaknya ke sekolah. Setelah itu, ia berangkat ke tempat kerja barunya: sebuah co-working space kecil tempat ia membuka jasa freelance desain dan penulisan konten. Tak besar, tapi cukup untuk membayar sewa, listrik, dan kebutuhan sehari-hari.
Suatu sore, seorang teman lamanya datang dan melihat Bulan tengah lembur menyusun materi klien.
“Masih semangat sendiri kayak gini, Lan?”
Bulan tersenyum tipis.
“Kadang capek, tapi capek karena usaha sendiri rasanya lebih… benar.”
Temannya terdiam, lalu berkata pelan,
“Kamu hebat.”
Dan untuk pertama kalinya, Bulan benar-benar percaya pada kalimat itu.
Tantangan tak berhenti di urusan ekonomi. Lingkungan sosial juga berubah. Ada yang menjauh karena merasa tak lagi “serupa status.” Ada juga yang mendekat hanya karena ingin tahu gosip di balik perceraian.