Namun Bulan belajar untuk tidak lagi hidup dari validasi luar. Ia mulai menyeleksi pertemanan, membuka komunitas online tentang healing pasca perceraian, dan menjadi mentor kecil-kecilan untuk perempuan yang mengalami hal serupa.
Ia pernah berpikir perceraiannya adalah akhir dari segalanya. Tapi kini ia sadar, itu justru awal dari perjalanan mengenal dirinya sendiri.
Suatu malam, saat anaknya tertidur, Bulan membuka album lama pernikahan mereka. Ia tak lagi menangis. Foto-foto itu tidak lagi mengiris, tapi justru seperti museum kenangan. Indah, tapi tidak lagi ingin kembali.
“Terima kasih sudah mengajarkan aku cara bertahan,” bisiknya pelan sambil menatap wajahnya sendiri di cermin.
“Sekarang waktunya aku mengajarkan diriku cara tumbuh.”
Tahun baru tak menjanjikan bahagia instan. Tapi memberikan harapan bahwa segala luka bisa diubah menjadi pelajaran. Bulan kini tahu bahwa tak semua hal yang hancur harus diperbaiki beberapa memang harus ditinggalkan agar kita bisa membangun ulang diri kita yang lebih kuat.
Dan hidup baru itu, bukan sekadar soal status, tapi tentang cara kita melihat diri sendiri setelah badai berlalu.