Aku Istrimu, Bukan Bonekamu: Diam yang Terlalu Lama (1)

Selasa 30-12-2025,09:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Malamnya, Bintang kembali mengkritik.

“Kamu beli ini buat apa? Boros!”

“Ini kebutuhan anak,” jawab Bulan pelan.

“Mulai berani bantah sekarang?”

Bulan menatap Bintang. Untuk pertama kalinya, tatapannya tak menghindar.

“Aku bukan berani bantah. Aku menjelaskan.”

Bintang tertawa singkat. “Jangan sok pintar. Aku yang kerja, aku yang tahu.”

Bulan berdiri. Jantungnya berdebar keras. Kata-kata yang lama tersimpan akhirnya menemukan jalan.

“Aku istrimu,” ucapnya, suaranya bergetar tapi jelas. “Bukan bonekamu.”

Bintang terdiam. Wajahnya berubah, seolah tak percaya.

“Kamu bicara apa?”

“Aku bicara tentang kita. Tentang aku yang terlalu lama diam. Tentang rumah yang seharusnya aman, bukan tempat aku merasa kecil.”

Bintang hendak membalas, tapi Bulan mengangkat tangan.

“Dengarkan aku sekali ini saja. Aku akan tetap menghormati kamu. Tapi aku tidak akan lagi menerima direndahkan. Aku akan bicara. Aku akan bekerja bila perlu. Dan aku akan melindungi anak-anak dari suara yang membuat mereka takut.”

Sunyi menyelimuti ruang tamu. Jam dinding berdetak keras. Bintang mengalihkan pandangannya, tak menemukan kata. Bulan menghela napas lega sekaligus takut. Ia tahu, keberanian ini punya harga. Tapi diam juga punya harga yang lebih mahal.

Malam itu, Bulan menulis di buku kecilnya: “Keberanian bukan melawan. Keberanian adalah berkata jujur meski gemetar.”

Kategori :