Aku Istrimu, Bukan Bonekamu: Titik Balik Sebelum Retak (3)

Aku Istrimu, Bukan Bonekamu: Titik Balik Sebelum Retak (3)

-Ilustrasi-

MALAM itu, hujan turun deras. Bulan duduk di teras, mendekap jaket suaminya yang tertinggal di kursi. Matanya sembab, tapi bukan karena menangis—melainkan karena sudah terlalu sering menahan tangis. Ia sudah lelah.

Tiga hari berlalu sejak konfrontasi kecil mereka. Bintang tak banyak bicara. Ia tak lagi berteriak, tapi juga belum meminta maaf. Mereka hidup seperti dua orang asing di rumah yang sama.


Mini Kidi--

Namun malam itu, sesuatu berbeda.

Bintang pulang lebih awal. Tanpa suara gaduh, tanpa membanting pintu. Ia duduk di sebelah Bulan, tanpa diminta. Hujan menjadi satu-satunya suara yang menemani mereka.

“Aku pikir, kalau aku keras, kamu akan merasa aman…” ujar Bintang lirih.

“Tapi ternyata aku hanya sedang menyembunyikan ketakutanku sendiri.”

Bulan menoleh pelan. Kali ini, suaminya tidak bicara dari ego. Tapi dari sisi yang rapuh. Yang manusiawi.

“Aku takut kehilanganmu,” lanjut Bintang. “Tapi aku malah menciptakan jarak yang membuatmu pergi dalam hati…”

Bulan tidak segera menjawab. Ia menggenggam jaket itu lebih erat.

“Mas, aku juga manusia. Aku tidak butuh disembah, hanya ingin dihargai,” jawabnya perlahan.

“Kalau rumah ini terus diisi amarah, bagaimana anak-anak bisa belajar tentang cinta?”

Air mata yang selama ini tertahan di mata Bintang akhirnya jatuh juga. Ia menangis bukan karena kalah, tapi karena sadar.

Sadar bahwa mencintai tidak bisa lagi dibuktikan dengan kuasa. Bahwa menjadi pemimpin keluarga tidak berarti harus berteriak paling keras.

Sumber: