iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Bayang Cinta Tanpa Kepastian (6): Garis Batas yang Harus Diikhlaskan

Bayang Cinta Tanpa Kepastian (6): Garis Batas yang Harus Diikhlaskan

-Ilustrasi-

BEBERAPA hari kemudian Sasa melihat sebuah foto di layar ponselnya, selembar gambar yang membekukan waktu.

Umar bersama kekasihnya. Ada orang tua Umar di sana, tersenyum hangat. Beberapa teman dekat juga terlihat merangkul. Sederhana, tanpa kemewahan yang berlebihan.

BACA JUGA:Bayang Cinta Tanpa Kepastian (5): Pengakuan Pahit yang Menghancurkan Segalanya

Namun foto itu menjawab semuanya dengan telak. Perempuan yang bersama Umar bukan lagi seseorang yang sekadar sedang dikencani untuk mengisi kekosongan malam. Ia sudah masuk ke dalam lingkaran suci kehidupan Umar, diterima oleh restu keluarga.

Sasa menatap foto itu lama, seolah ingin menghafal setiap detailnya. Anehnya, tidak ada rasa benci kepada perempuan tersebut di dalam dadanya. Yang ada justru penyesalan yang mendalam kepada dirinya sendiri, penyesalan yang menggigit perlahan.

BACA JUGA:Bayang Cinta Tanpa Kepastian (4) Terombang-ambing di Persimpangan Hati

Dulu ia mempunyai Umar ketika keduanya masih sama-sama saling mencintai. Mereka menyerah begitu saja kepada jarak yang membentang. Sekarang, ketika ia ingin menengok kembali ke belakang, Umar sudah membangun jembatan dan jalan baru bersama orang lain.


Mini kidi--

Sasa menghubungi sahabat Umar untuk terakhir kalinya, mencuri kabar di penghujung hari.

“Dia bahagia?” tanya Sasa getir.

“Kelihatannya iya.” Jawabannya singkat, menghujam telak. 

“Tolong jaga dia.” Sasa mengetik lagi sebuah pesan refleks. 

Namun sebelum sempat dikirim ke dunia maya, ia menghapusnya dengan tangan bergetar. 

BACA JUGA:Bayang Cinta Tanpa Kepastian (3): Sisa-Sisa Pesan yang Tak Sempat Pulang

Sumber:

Berita Terkait