iklan bhayangkara2

Wasiat Terakhir Mertua (1): Jeritan Hati di Balik Senyum Mertua

Wasiat Terakhir Mertua (1):  Jeritan Hati di Balik Senyum Mertua

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga menantu dan ibu mertua.--

Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Bagi Henry dan Laras, ikatan itu terjalin bukan karena silaunya harta ataupun keagungan kasta. Cinta mereka tumbuh murni dari tumpukan keringat, berjuang bersama dari titik nol saat merintis karier di belantara kota.

Namun, di balik hangatnya kebersamaan mereka, ada dingin yang senantiasa membeku. Ada sesosok wanita yang tak pernah sudi membuka pintu hatinya untuk Laras. Nirma. Ibu kandung Henry.

Di mata khalayak ramai, Nirma adalah sosok wanita anggun, penuh kelembutan, dan berjiwa dermawan. Wajahnya yang keibuan senantiasa memancarkan kehangatan. Namun, tak seorang pun tahu, di balik senyumnya yang memikat,

Nirma menyimpan benci yang mengkristal. Sebuah penolakan yang tak pernah padam untuk sang menantu.

"Aku tidak pernah membencimu, Laras..." ucap Nirma suatu ketika. Suaranya halus, namun senyap menancapkan sembilu. "Tapi sejak awal, kamu memang bukan wanita pilihan yang kuinginkan untuk putraku."

BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (6): Penyesalan Terlambat dan Karma Sang Lelaki Kufur


Gempur Rokok Illegal--

Kalimat itu terngiang bak mantra beracun. Menusuk tepat di ulu hati Laras, menyisakan luka yang terus berdarah saban hari. Namun, Laras bukanlah wanita pelimpah amarah. Dengan ketabahan luar biasa, ia coba runtuhkan tembok keangkuhan mertuanya.

Saat Nirma terbaring sakit, Laras-lah yang setia mengusap keringat di dahinya. Saat jadwal kontrol tiba, tangan Laras yang menuntun langkah renta itu. Bahkan tatkala Henry harus melanglang buana demi tugas kantor, Laras dengan sabar menyiapkan tiap suap makanan, patuh pada segala pantangan demi sang ibu mertua.

Akan tetapi, kepasrahan Laras bak meneteskan air di atas batu hitam yang keras. Tak pernah cukup. Bila masakan sedikit asin, tuduhan tak perhatian langsung melayang. Bila masakan hambar, makian tak pandai mengurus suami siap menyambut.

BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (5): Air Mata Terakhir untuk Raga yang Hampa

Bahkan Terlambat lima menit saja melangkah ke rumahnya, Laras sudah dicap menantu durhaka yang tak tahu tata krama. Laras memilih bungkam. Bukan karena ia lemah atau tak berdaya. Ia diam demi satu nama yakni demi nama suaminya Henry.

Ia tak ingin pria yang dicintainya itu hancur terbelah dalam dilema abadi antara ibu yang melahirkannya dan istri yang mendampinginya. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber: