Bertemu Senator Lia, Mendukbangga Wihaji Warning Anak Kecanduan Gawai dan Demokrasi Instan
Senator Lia Istifhama bersama Mendukbangga Wahaji membahas gejala sosial anak.--
JAKARTA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (Mendukbangga/BKKBN) Wihaji mengeluarkan peringatan serius terkait meningkatnya kecanduan gawai pada anak dan remaja yang berdampak langsung pada cara berpikir generasi muda, termasuk dalam memahami demokrasi.
Fenomena tersebut dinilai berbahaya karena melahirkan pola pikir serba instan yang dibentuk oleh algoritma media sosial.
BACA JUGA:Belajar Manajemen dan Layanan Terbaik, Lembaga Pendidikan Khadijah Kunjungi Senator Lia Istifhama

Mini Kidi--
Peringatan itu disampaikan Wihaji saat menerima kunjungan Senator DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, di kantor Mendukbangga/BKKBN.
Keduanya membahas dampak media sosial terhadap pengasuhan anak, pembentukan karakter, serta kualitas demokrasi ke depan.
BACA JUGA:Perkuat Identitas Kebangsaan, Senator Lia Dorong Revitalisasi Bahasa Daerah Jawa Timur
Menurut Wihaji, banyak anak saat ini menghabiskan waktu 7–8 jam per hari hanya untuk bermain gawai. Kondisi tersebut membuat anak mengalami ketergantungan, bahkan memengaruhi kerja otak dan cara mereka menyerap informasi.
“Anak-anak kita kecanduan gawai. Cara berpikirnya dipengaruhi algoritma media sosial dan opini netizen. Ini berbahaya jika dibiarkan, apalagi dalam konteks demokrasi,” tegas Wihaji, Jumat, 16 Januari 2025.
Ia menjelaskan, demokrasi instan yang lahir dari linimasa media sosial rawan melahirkan sikap reaktif, dangkal, dan minim empati. Tanpa pendampingan keluarga, anak mudah menyerap narasi tanpa proses berpikir kritis.
BACA JUGA:Dari Doa hingga Teori Jarum Suntik, Pesan Senator Lia untuk Calon Influencer Muda
Karena itu, Wihaji menekankan pentingnya mengembalikan keluarga sebagai ruang utama pendidikan nilai, etika, dan cara berpikir. Pengasuhan, menurutnya, tidak bisa diserahkan kepada gawai atau media sosial.
Sementara itu, Senator Lia menyampaikan pandangan sejalan. Ia menilai kecanduan gawai dan dominasi media sosial membuat anak kurang peduli terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
“Kalau anak belajar nilai dari media sosial, yang terbentuk adalah logika netizen. Padahal kepedulian sosial dan politik harus ditanamkan dari keluarga,” ujar Lia.
Sumber:
