Pesantren Masuk e-Catalog Negara, Senator Lia Dorong Ekonomi Berbasis Komunitas

Pesantren Masuk e-Catalog Negara, Senator Lia Dorong Ekonomi Berbasis Komunitas

Lia Istifhama.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Transformasi digital pengadaan barang dan jasa pemerintah di Jawa Timur mulai membuka ruang baru bagi pesantren. Melalui optimalisasi e-catalog, produk-produk pesantren didorong masuk ke dalam ekosistem belanja negara.

Anggota DPD RI Komite III asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai langkah ini sebagai terobosan penting dalam penguatan ekonomi berbasis komunitas.

BACA JUGA:RS Kompeten Tanpa Aturan Jelas Berisiko Lumpuhkan Layanan, Senator Lia Desak Negara Hadir


Mini Kidi--

Menurut Lia, selama ini pesantren memiliki potensi ekonomi yang besar, mulai dari produk makanan-minuman, konveksi, percetakan, hingga jasa. Namun, keterbatasan akses pasar membuat banyak produk pesantren hanya berputar di lingkungan internal.

Digitalisasi pengadaan pemerintah dinilai menjadi pintu masuk strategis agar pesantren dapat terhubung langsung dengan pasar negara.

“Pesantren bukan hanya pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga pusat ekonomi umat. Ketika negara membuka akses e-catalog, pesantren memiliki peluang nyata untuk terlibat dalam belanja pemerintah,” ujar Lia, Jumat, 9 Januari 2026.

BACA JUGA:Ketidakadilan Fiskal DBHCHT, Senator Lia Desak Reformasi Bagi Hasil Cukai Jawa Timur

Ia menjelaskan, Jawa Timur sebagai salah satu daerah percontohan nasional e-catalog telah menyiapkan ekosistem yang memungkinkan pelaku lokal masuk secara bertahap, termasuk pesantren.

Sistem digital, kata dia, membuat proses pengadaan lebih transparan dan terukur, sehingga produk pesantren dapat bersaing secara sehat berdasarkan kualitas dan harga.

BACA JUGA:Sikapi Ketimpangan Infrastruktur, Senator Ning Lia Perjuangkan Perbaikan Jalan Nasional Ngawi ke Pusat

Lia menargetkan mulai 2026 produk pesantren dapat terlibat lebih luas dalam belanja pemerintah. Menurutnya, keterlibatan pesantren tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai usaha, tetapi juga menciptakan efek sosial yang luas.

“Ketika pesantren diberdayakan, yang bergerak bukan hanya unit usaha, tetapi juga santri, alumni, dan masyarakat sekitar. Ini ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjutan,” tegasnya.

BACA JUGA:Sinergi Menuju Kedaulatan Pangan, Senator Lia Puji Keberhasilan Kemandirian Pangan Ngawi

Sumber: