Liburan Terlarang di Pulau Dewata: Rahasia yang Tertinggal di Bali (2)

Liburan Terlarang di Pulau Dewata: Rahasia yang Tertinggal di Bali (2)

-Ilustrasi-

BULAN duduk di ruang keluarga yang kosong. Televisi menyala menampilkan tayangan anak-anak, tapi pikirannya melayang. Sudah lima hari sejak Bintang “dinas ke Bali”, dan sikapnya berubah drastis. Tidak ada foto aktivitas kerja, tidak ada kabar seperti biasanya. Ia bukan wanita yang curiga berlebihan, tapi naluri seorang istri mulai berbisik pelan: ada yang tak beres.

“Mas, boleh video call bentar?” tulis Bulan.


Mini Kidi--

Pesan itu hanya dibaca, tidak dibalas.

Di sisi lain, di vila bernuansa tropis dekat Ubud, Bintang duduk di teras bersama Sunny. Mereka tidak banyak bicara, hanya saling menikmati keheningan dan kopi pagi. Tapi keheningan itu terasa berbeda. Ada kecanggungan yang tumbuh setelah malam-malam yang seharusnya tak pernah terjadi.

Sunny menatap Bintang. “Kau menyesal?”

Bintang menghela napas panjang. “Aku… tak tahu. Di satu sisi aku merasa bebas. Tapi di sisi lain, aku tahu ini salah.”

Sunny tersenyum getir. “Aku tidak minta apa-apa darimu, Bintang. Aku hanya ingin kamu jujur pada dirimu sendiri. Apa kamu bahagia dengan Bulan?”

Pertanyaan itu seperti pisau. Menyakitkan karena ia tak tahu jawabannya.

Keesokan harinya, Bintang pulang ke rumah. Senyum Bulan menyambutnya hangat, bersama anak-anak yang berebut memeluk. “Kami kangen Ayah!” teriak si bungsu. Tapi pelukan itu tak mampu menghapus rasa bersalah yang menggumpal di dada Bintang. Tatapan mata Bulan malam itu mencarinya mencari ketulusan, mencari kejujuran yang sudah mulai pudar.

“Mengapa kamu gak pernah video call?” tanya Bulan hati-hati saat anak-anak sudah tidur.

“Maaf, sinyal di sana jelek. Jadwal padat.”

Bulan mengangguk, meski hatinya menolak. “Aku percaya kamu, Mas. Tapi jangan buat kepercayaan ini jadi beban yang sia-sia.”

Bintang hanya tersenyum, menghindar dari kontak mata. Ia merasa seperti aktor dalam drama yang ia tulis sendiri. Tapi drama ini tidak punya ending bahagia, kalau ia terus membohongi dirinya sendiri.

Sumber: