iklan ulta memorandum

Teater Digital dan Ilusi Nyali

Teater Digital dan Ilusi Nyali

-Ilustrasi-

Orang-orang sering lupa bahwa di balik layar gawai yang berpendar, ada satu komoditas yang paling mahal harganya hari ini: perhatian. Di pasaran maya, keributan adalah mata uang. 

BACA JUGA:Sumpah Pemuda dan Punggung Wong Cilik

Siapa yang paling keras berteriak, dialah yang paling cepat menimbun kekayaan berupa engagement. Maka, lahirlah figur-figur seperti Herri Pras. Di awal, ia tampil mempesona atau setidaknya tampak demikian. 


Mini kidi--

Dengan nada bicara yang menantang dan kritik yang menelanjangi kemapanan, ia menyerupai seorang pembangkang yang merindukan kebebasan berpikir. 

Kita sempat tersenyum, mengira di tengah masyarakat yang kian steril oleh basa-basi, ada seseorang yang berani mendobrak pintu kesunyian.

BACA JUGA:Tamu Culas di Rumah Sendiri

Namun, pesona kepahlawanan kadangkala rapuh sebelum sempat mengering. Ketika kita menelanjangi nalar di balik seluruh retorika itu, yang tersisa hanyalah kepompong kosong. 

Kritik yang ia bangun bukanlah buah dari permenungan intelektual yang jernih, melainkan dagangan sensasi yang diracik demi memancing amarah massa. 

BACA JUGA:Ketika Ketua NU Menyeberang Pagar

Ini adalah bentuk parasitism sosial yang murahan: menumpang ketenaran orang lain, menebar gaduh, lalu menghitung untung dari setiap hujatan yang tumpah di kolom komentar.

Lalu, apa yang terjadi ketika angin pengujian benar-benar meniup layar perahunya? Ketika tantangan terbuka yang ia lemparkan ke udara ditangkap dan ditagih di dunia nyata, retorika heroik itu mendadak luntur. 

Seorang pemberani sejati memegang urat leher kata-katanya; ia berdiri tegak di hadapan konsekuensi.

BACA JUGA:Kalah Bersaing, Kok Merusak?

Sumber: