iklan umroh banner
iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi

Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi

ilustrasi--Artificial Intelligence (AI)

Sore itu, layar ponsel bernyala, memantulkan deretan notifikasi yang riuh. Di sebuah grup percakapan majelis, jari-jari bergerak cepat membolak-balik perdebatan yang kian panas. Seorang kiai sepuh, yang selama ini diletakkan di singgasana hormat, baru saja melontarkan kalimat tajam menyindir ulama lain.

BACA JUGA:Data Manis, Bondowoso Menangis

Alih-alih merenung, para pengikut setianya menyambut dengan sorak sorai digital. Jemari mereka menari di atas tombol komentar, meluncurkan cibiran, merundung tanpa sisa, bahkan dengan entengnya mengetikkan vonis sesat dan kafir.


Mini kidi--

Kita sering tertegun. Ada sesuatu yang janggal dan menyesakkan dada. Sabda Nabi Muhammad SAW yang diwariskan dengan segenap kasih dan kedamaian kerap kali ditimbang-timbang dengan ekstra hati-hati, diuji validitasnya dalam kitab-kitab hadis, bahkan diperdebatkan panjang lebar oleh para ulama. Namun, ucapan sang kiai ditelan mentah-mentah.

BACA JUGA:Ketika Paru-Paru Bumi Mulai Sesak

Ia menjelma sabda agung yang haram disentuh kritik. Ada rasa takut yang samar, semacam cemas akan kualat atau kutukan mistis jika berani berbeda jalan.

Di sinilah ironi itu berkelindan. Manusia sering kali lebih mudah takut kepada murka manusia yang diagungkan ketimbang menguji nalar di hadapan kebenaran yang lebih luas.

BACA JUGA:Air Mata di SPBU

Lantas, dari mana akar kepatuhan buta ini bermula? Sebagai seseorang yang hingga detik ini merupakan pembaca, pecinta, bahkan pengajar kitab Ta'lim Muta'allim di pesantren sendiri, saya tahu persis nilai yang terkandung di dalamnya.

Di dalam risalah mahakarya Syekh Al-Zarnuji tersebut, adab terhadap guru memang diletakkan di tempat yang sangat mulia. Kitab itu adalah panduan emas pembentukan karakter seorang penuntut ilmu.

BACA JUGA:Surat untuk Ibu

Namun, persoalannya bukan pada kitabnya, melainkan pada bagaimana teks itu kerap mengalami salah kaprah yang masif di tangan sebagian orang. Hormat dan tawaduk kepada guru diartikan secara ekstrem sebagai larangan mutlak untuk membantah, apalagi mengkritik, seolah sang guru adalah manusia suci yang kebal dari kesalahan. 

Lebih runyam lagi, ada kalanya teks-teks klasik tersebut justru disalahgunakan oleh sebagian oknum untuk melanggengkan kekuasaan personal, membunuh nalar kritis, dan merawat kultus kelompok demi kepentingan ego semata.

Sumber: