Saksi Sejarah: Mbah Dirjo adalah Pasukan Diponegoro, Sejarawan Minta Makamnya Dijaga Bersama
Pertemuan ulama, Laskar Sabilillah dan Majelis Dzikir Taubat Nur Ilahi.(ist/sud)--
SIDOARJO, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Tudingan miring yang menyebut Makam Mbah Dirjo Joyo Ulomo di Ngelom, Sepanjang, Taman, Sidoarjo hanya berisi boneka tanah liat dan Alquran dibantah tegas oleh saksi sejarah. Isu tersebut dinilai tidak berdasar dan memicu kegaduhan di tengah masyarakat.
KH Choirul Anbiya, sejarawan dan budaya asal Ngelom, Sepanjang, Taman, Sidoarjo mengatakan, Mbah Dirjo bukanlah figur sembarangan. Ia diyakini sebagai bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro asal Mataram yang melarikan diri dari kejaran Belanda. Dalam pelariannya, ia kemudian nyantri kepada Mbah Raden Ali di Ngelom dan mengabdikan hidupnya untuk merawat keturunan sang guru.
BACA JUGA:Bantah Tudingan Pungli, Pengelola Coban Sewu Tegaskan Legalitas Penarikan Tarif di Dasar Sungai

Mini Kidi Wipes.--
Sejarawan sekaligus warga asli Sepanjang yaitu KH Khoirul Ambiya, menjadi saksi kunci yang membantah dan mengaku terlibat langsung dalam pembongkaran makam.
“Saya saksi langsung. Kami gali makam itu sampai kedalaman lebih dari 1,5 meter. Tidak ditemukan boneka sama sekali. Yang ada hanya batu nisan atau maesan berhias kelereng," katanya.

Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
Menurutnya, tuduhan bahwa makam tersebut berisi boneka dan Alquran merupakan penggiringan opini yang menyesatkan dan tidak memiliki dasar fakta.
Pembongkaran makam oleh pihak tidak bertanggungjawab juga memicu penolakan keras dari sebagian warga. Mereka menilai tudingan tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap ulama dan tokoh yang selama ini dihormati.
BACA JUGA:Kantor FIF Kediri Digeruduk Massa, Branch Manager Bantah Tudingan Arogansi Kapos Pare
Senada itu, Gus Fandi, pendiri Majelis Dzikir Taubat Nur Ilahi mengatakan, pentingnya menjaga hak-hak ahli waris sekaligus menghormati nilai sejarah.
Informasi yang beredar, tanah itu hak milik keluarga besar. Terus ada program dari pemerintah daerah untuk pelebaran atau pemindahan Pasar Sepanjang
Waktu itu hak-hak ahli waris diminta diperhatikan, termasuk adanya makam tersebut, karena itu sejarah keluarga.
Ia berharap masyarakat Wonocolo Taman tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum tentu benar. "Makam Mbah Dirjo bukan sekadar situs religi, melainkan bagian dari jejak sejarah perjuangan yang patut dihormati dan dijaga bersama," ujar Gus Fandi.(sud/jok)
Sumber:








