Perjalanan Tabitha Menuju Rumah Kedamaian, Simfoni Iman yang Sempat Terguncang
Tabitha Lily Christian.-Ali Muchtar-
BACA JUGA:Perjalanan Sunyi Andik Mencari Kebenaran Iman, Gagal Jadi Pastor Malah Temukan Islam
"Muncul perasaan bersalah yang luar biasa. Saya sempat bimbang dan diajak kembali ke gereja oleh kakak saya. Namun, hati saya tetap terasa kosong saat beribadah di sana," ungkapnya dengan nada lirih.
BACA JUGA:Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh
Melalui perenungan panjang tentang tujuan hidup dan hakikat kehidupan setelah mati, Tabitha menyadari bahwa Islam adalah rumah bagi ketenangan hatinya.
BACA JUGA:Transformasi Niluh Putu Eka Menjadi Muslimah, Gema Azan di Langit Denpasar yang Mengubah Takdir
Ia pun kembali meneguhkan syahadatnya dan teguh menjalankan salat meskipun tantangan dari pihak keluarga tetap membayangi.
BACA JUGA:Transformasi Keyakinan Berliana Murphi, Dari Keraguan Menuju Kemantapan Berislam
Kini, hampir dua dekade sejak memeluk Islam, Tabitha telah menemukan kebahagiaan paripurna. Jika dulu ia berjuang sendirian dalam kesunyian, kini pada Ramadan ia lalui dengan penuh keberkahan bersama suami dan anak-anaknya.
BACA JUGA:Sujud Teduh Putri Pendeta Gereja Bethany, Jemput Hidayah Lewat Kepolosan Sang Buah Hati
Baginya, setiap momen sahur dan berbuka adalah bentuk pertumbuhan iman yang nyata dan sangat ia syukuri. Meski sempat diwarnai ketegangan hebat, kini harmoni mulai tumbuh kembali di tengah keluarga besarnya.
BACA JUGA:Ikhtiar Icha Yustin Kwandou Mendalami Makna Tauhid, Antara Restu Ibu dan Panggilan Kalbu
Keluarga besar Tabitha yang non-muslim mulai menunjukkan sikap demokratis dan menghargai pilihannya.
BACA JUGA:Perjalanan Iman dan Toleransi Tanjaya, Cahaya Hati di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya
Setiap Idulfitri tiba, mereka tetap berkunjung untuk sekadar makan bersama. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak harus memutuskan tali persaudaraan yang telah lama terjalin. (mtr/nov)
Sumber:




