idulfitri 1447 h new

Tradisi Mudik, UMM Sebut Retret Spiritual dan Kultural Idulfitri

Tradisi Mudik, UMM Sebut Retret Spiritual dan Kultural Idulfitri

pelaksanaan sholat idulfitri di lingkungan kampus UMM --

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID -  Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai penanda berakhirnya Ramadan. Tetapi juga  momentum penting melakukan retret kultural dan spiritual. 

Hal ini disampaikan Prof. Dr. Biyanto, M.Ag dalam khutbah Idul Fitri di Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jumat, 20 Maret 2026. 

BACA JUGA:Ngabuburit UMM di Kayutangan Heritage Hadirkan Ecoprint dan Live Cooking


Mini Kidi Wipes.--

Dalam khutbahnya, Biyanto menekankan, tradisi mudik yang melekat di masyarakat Indonesia, memiliki makna jauh lebih dibanding sekadar perjalanan pulang kampung. 


Gempur Rokok Ilegal.--

Ia menyebut, mudik sebagai bentuk retret kultural yang memperkuat identitas sosial. Sekaligus retret spiritual yang mengembalikan manusia pada nilai-nilai fitrah.

“Melalui mudik, masyarakat tidak hanya melakukan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk kembali pada akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaan,” jelasnya.

BACA JUGA:Ancaman Krisis Energi Global, Pakar HI UMM Ingatkan Dampak Eskalasi Konflik AS-Israel dan Iran bagi Indonesia

Menurutnya, retret kultural tercermin dalam upaya masyarakat menjaga tradisi silaturahmi. Mempererat hubungan keluarga, serta merawat kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi.

Tradisi saling mengunjungi, bermaaf-maafan, hingga berkumpul bersama keluarga besar menjadi bagian penting dari proses tersebut. 

Di sisi lain, retret spiritual hadir melalui refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan. Momentum Idul Fitri dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan.

BACA JUGA:Ajang Bukber Sering Bikin Minder? Psikolog UMM Ungkap Cara Hadapi Social Comparison Saat Reuni

Biyanto menegaskan, kedua dimensi ini tidak dapat dipisahkan. Retret kultural tanpa spiritualitas akan kehilangan makna, sementara retret spiritual tanpa sentuhan sosial dan budaya akan terasa hampa dalam kehidupan bermasyarakat.

Sumber: