Deklarasi Gerakan Makan Dihabiskan di CFD Darmo Langkah Menuju Kota Nol Sampah

Siswa sekolah Adiwiyata, beberapa kampung iklim, Trans Bag Community, dan Bonek Garis Hijau deklarasi gerakan makan dihabiskan bersama sekolah-sekolah Adiwiyata di CFD Darmo. --
SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID - Dalam rangka memperingati Zero Waste Month, Komunitas Nol Sampah bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya deklarasi gerakan makan dihabiskan bersama sekolah-sekolah Adiwiyata di Car Free Day (CFD) Darmo, Minggu 19 Januari 2025.
Kegiatan melibatkan sekolah-sekolah Adiwiyata, beberapa kampung iklim, Trans Bag Community, dan Bonek Garis Hijau. Koordinator Komunitas Nol Sampah, Wawan Some, menyatakan bahwa deklarasi ini sangat tepat mengingat Surabaya telah menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Para siswa kader Adiwiyata yang hadir diharapkan dapat menjadi penggerak kampanye di sekolah masing-masing. Mereka merupakan ujung tombak dalam kegiatan ramah lingkungan di sekolah, termasuk pengolahan sampah," kata Wawan Some kepada Memorandum.
BACA JUGA:Ini Dia Strategi Hidup Tanpa Sampah, Penerapan Zero Waste
Wawan menambahjan, tujuan utama deklarasi ini adalah meminimalisir sampah sisa makanan yang dihasilkan dari program MBG. Survei awal pada 13 Januari di sebuah SMP di Surabaya menunjukkan bahwa setiap siswa membuang rata-rata 25-40 gram sampah makanan. Dengan memperkirakan jumlah siswa penerima MBG di Surabaya sekitar 600.000 orang, maka potensi sampah sisa makanan mencapai 15-24 ton per hari. "Angka ini belum termasuk sampah dari proses memasak di dapur sekolah. Satu ton sampah makanan menghasilkan sekitar 2.324,24 kg emisi gas rumah kaca setara CO2," ungkap Wawan.
Selain deklarasi, siswa juga akan melakukan kampanye dan edukasi kepada pengunjung CFD Jalan Darmo, mengajak warga untuk menghabiskan makanan mereka. Kampanye ini juga akan menyerukan penghentian penggunaan alat makan sekali pakai, yang merupakan jenis sampah plastik terbesar di Surabaya.
BACA JUGA:Hari Jadi Kota Kediri, Walikota Hadiahkan Zero Waste
Meskipun penggunaan kantong plastik telah berkurang 2-5 ton per hari setelah adanya peraturan pembatasan, penggunaan alat makan sekali pakai justru meningkat seiring perkembangan kuliner. "Penggunaan alat makan sekali pakai ini selain meningkatkan jumlah sampah juga berpotensi membahayakan kesehatan," imbuh dia.
Menurut Wawan sampah makanan merupakan masalah serius di Surabaya. Dari 1.600 ton sampah yang masuk ke TPA Benowo setiap hari, 55% atau 888 ton merupakan sampah makanan. Jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya, sebagian besar disebabkan oleh pengelolaan sampah makanan yang tidak tepat. Sampah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang daya rusaknya 21 kali lebih besar daripada CO2.
BACA JUGA:Wujudkan Zero Waste Zero Emission, Wali Kota Sutiaji Kunjungi Pengolahan Sampah
Studi Environmental Protection Agency AS menyebutkan satu ton sisa makanan menghasilkan emisi gas rumah kaca sekitar 595 kg ekuivalen CO2, setara dengan emisi mengendarai mobil bensin sejauh 3.000 km atau pemakaian listrik rumah tangga sebesar 700 kWh.
Oleh karena itu, tema Zero Waste Month 2025 adalah "Food Waste No More". Zero Waste Month diperingati setiap Januari, bermula di Filipina pada 2012 melalui Deklarasi Presiden Filipina No. 760 yang diinisiasi oleh para pemuda.
BACA JUGA:Dirjen PSLB3 KLHK dan Wali Kota Batu Resmikan Zero Waste Education Park
"Peringatan ini kini meluas ke beberapa negara di Asia Pasifik. Deklarasi Gerakan Makan Dihabiskan di Surabaya diharapkan menjadi langkah nyata dalam mengurangi sampah makanan dan mewujudkan Kota Surabaya yang lebih ramah lingkungan," pungkas Wawan. (rio)
Sumber: