HPN 2026

Pendapatan Negara Jatim Tertekan di 2025, BI Tetap Optimistis 2026

Pendapatan Negara Jatim Tertekan di 2025, BI Tetap Optimistis 2026

Kepala Kantor Perwakilan LPS II, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, serta Direktur Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK saat menghadiri acara di Bank Indonesia di Surabaya. -Lailatul Nur Aini-

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Penerimaan negara di Jawa Timur sepanjang 2025 mengalami tekanan seiring melemahnya pajak dan perlambatan sejumlah sektor usaha. 

BACA JUGA:Dukung Tugas Polri, Bank Indonesia Jatim Hibahkan 3 Unit Ranmor

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) tetap optimistis ekonomi Jatim akan tumbuh lebih baik pada 2026.


Mini Kidi--

Kepala DJPb Kanwil Jatim, Saiful Islam, menyebut realisasi penerimaan pajak netto hingga akhir 2025 mencapai Rp 109,9 triliun atau 85,54 persen dari target. Angka ini terkontraksi 4,4 persen dibanding tahun sebelumnya.

BACA JUGA:Pemkab Bojonegoro Terima Penghargaan Ekonomi Syariah dari Bank Indonesia

"Penurunan terutama terjadi pada PPh nonmigas serta PPN dan PPnBM. Kontraksi ini dipicu kebijakan pemusatan pembayaran pajak, akreditasi wajib pajak cabang, serta turunnya produksi rokok," kata Saiful, dalam acara Sinergi dan Kolaborasi Melanjutkan Transformasi dan Menjaga Stabilitas Ekonomi Jawa Timur untuk Mewujudkan Indonesia Tangguh dan Mandiri" di Kantor BI Jatim, Jalan Pahlawan, Surabaya, Senin 9 Februari 2026. 

BACA JUGA:Gelar 155 Kegiatan, Upaya OJK Malang Lindungi Konsumen

Ia menambahkan, sejumlah sektor seperti transportasi, pergudangan, dan konstruksi juga masih mengalami tekanan. Meski demikian, pemerintah terus menggelontorkan insentif fiskal untuk menjaga daya beli dan aktivitas usaha.

BACA JUGA:Stabil di Tengah Tantangan Global, OJK Catat Suku Bunga Kredit Turun Sepanjang 2025

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Jatim, Ibrahim, menegaskan stabilitas perbankan dan sistem pembayaran tetap terjaga.

BACA JUGA:Peringati Hari Ibu, OJK Malang Jadikan Perempuan 'Menteri Keuangan' Keluarga

"Pertumbuhan kredit masih stabil, dan transaksi non-tunai melalui QRIS terus meningkat sehingga mendukung efisiensi ekonomi," ucap Ibrahim.

BACA JUGA:Satgas Pasti OJK Malang Adang Aktivitas Keuangan Ilegal

Sumber:

Berita Terkait