Ironi BoP dan Narasi Perdamaian Semu
Catatan Redaksi Eko Yudiono.--
KABAR tewasnya pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menjadi ironi besar di tengah narasi perdamaian dunia.
Situasi ini terasa semakin kontras ketika Indonesia baru saja bergabung dalam Board of Peace (BoP), sebuah forum yang secara ideal dibentuk untuk memperkuat stabilitas dan harmoni global.
Alih-alih dunia menjadi lebih tenang, konflik justru memanas.
Amerika Serikat bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangan terhadap Iran dengan alasan klasik: menjaga keamanan dunia.
Iran dituduh sebagai ancaman global karena pengembangan program nuklir yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan Barat.
BACA JUGA:Ketika “Rasa Sayang” Saja Tak Cukup
Dalam sudut pandang satir, dunia seolah kembali pada pola lama: perdamaian versi negara kuat adalah ketika negara lain patuh. Ketika tidak patuh, maka label “ancaman dunia” menjadi tiket legitimasi untuk tindakan militer.
Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, bahkan disebut memimpin langsung operasi yang menargetkan Khamenei, sebuah langkah yang menuai kontroversi luas di panggung internasional.
Dalih menjaga stabilitas global tentu terdengar mulia. Namun, seperti biasa, definisi stabilitas sering kali ditentukan oleh pihak yang memiliki kekuatan militer terbesar. Sementara negara-negara lain hanya bisa menonton sambil menyesuaikan diri dengan dampaknya.
Iran pun tidak tinggal diam. Serangan balasan dilaporkan menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
BACA JUGA:Indah di Spanduk Hampa di Ruang Redaksi
Ketegangan semakin meningkat ketika Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Ironisnya, langkah tersebut juga berdampak pada ekonomi Iran sendiri, tetapi sekaligus menjadi sinyal keras kepada pasar energi global.
Penutupan selat ini langsung memicu kekhawatiran internasional. Harga minyak dunia berpotensi melonjak, rantai pasok energi terganggu, dan ekonomi global terancam mengalami tekanan baru.
Banyak analis bahkan mulai berspekulasi mengenai kemungkinan konflik berskala lebih luas, meski istilah “Perang Dunia III” masih lebih sering menjadi judul sensasional ketimbang realitas yang pasti.
Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan satir namun relevan: bagaimana posisi negara-negara yang mengusung semangat perdamaian, termasuk Indonesia sebagai anggota baru BoP?
Ketika forum perdamaian bertambah anggota, tetapi konflik global justru meningkat, publik tentu wajar mempertanyakan efektivitasnya.
Apakah keanggotaan dalam organisasi perdamaian benar-benar memberi pengaruh nyata terhadap stabilitas dunia, atau sekadar simbol diplomasi yang mahal?
Mengingat keanggotaan internasional tidak datang secara gratis, pertanyaan tentang manfaat konkret bagi kepentingan nasional menjadi semakin relevan.
Pada akhirnya, dunia kembali dihadapkan pada paradoks lama: semakin banyak forum perdamaian dibentuk, semakin sering konflik besar terjadi.
Mungkin persoalannya bukan pada jumlah organisasi perdamaian, melainkan pada siapa yang benar-benar memegang kendali atas makna “damai” itu sendiri.
Sumber:




