TNI dan Labirin Gaza
Fatkhul Aziz--
Ada sesuatu yang ganjil ketika kita membicarakan 8.000 prajurit TNI yang akan dikirim ke Gaza dalam barisan Board of Peace.
Di sana, di tanah yang debunya adalah campuran antara sejarah yang perih dan beton yang hancur, kita mengirim 'damai' dengan seragam loreng.
BACA JUGA:Gentengisasi

Mini Kidi--
Mungkin kita sedang merindukan sebuah peran. Seperti panggung teater yang sunyi, kita ingin masuk ke tengah lampu sorot, membawa narasi tentang solidaritas. Namun, Gaza bukanlah panggung yang ramah bagi metafora. Ia adalah realitas yang berdarah.
8.000 personel adalah angka yang kolosal. Tapi apakah perdamaian bisa dihitung dengan jumlah bayonet? Di Gaza, batas antara penolong dan pengganggu seringkali setipis kabut pagi di pegunungan Dieng. Kita datang dengan niat baik, itu pasti. Tapi sejarah seringkali mencatat bahwa niat baik yang dipersenjatai, jika tidak hati-hati, hanya akan menjadi saksi bisu bagi ketidakberdayaan yang baru.
BACA JUGA:Harga Sebuah Tawa
Kita harus bertanya: apa yang dicari di sana? Jika itu adalah kemanusiaan, ia seringkali tak butuh barisan yang rapi, melainkan tangan yang sunyi. Gaza tak butuh lebih banyak prajurit; ia butuh lebih banyak ruang untuk bernapas tanpa bayang-bayang moncong senjata, dari manapun asalnya.
Pada akhirnya, mengirim pasukan adalah sebuah sikap politik. Namun, menjaga agar nurani tetap jernih di tengah gemuruh artileri adalah tugas yang jauh lebih berat daripada sekadar menyeberangi samudera. Gaza menjadi semacam cerminan bagi kita semua tentang sejauh mana kita mampu mencintai sesama tanpa harus merasa menjadi pahlawan yang gagah berani.
Sumber:




