HPN 2026

Indah di Spanduk Hampa di Ruang Redaksi

Indah di Spanduk Hampa di Ruang Redaksi

Catatan Redaksi Eko Yudiono.--

PERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini terasa berbeda. Alih-alih gegap gempita, banyak wartawan di berbagai daerah justru merayakannya dengan suasana lesu.

Penyebabnya sederhana namun getir: satu per satu media tempat mereka bekerja tumbang, gulung tikar, atau sekadar hidup segan mati tak mau.

Dalam satu dekade terakhir, media arus utama terutama media cetak dipaksa bertarung di arena yang timpang.

Media sosial datang dengan kecepatan, fleksibilitas, dan algoritma yang memanjakan pengiklan. Media mainstream pun berbenah: desain koran dipercantik, konten dipoles, tampilan diperhalus.

Sayangnya, di era serba instan, cantik saja tak cukup.

Media sosial bekerja dalam hitungan detik. Iklan bisa tayang secepat jari menekan layar. Influencer, kreator konten, hingga artis kini menjadi “etalase baru” pemasaran.

BACA JUGA:Nisfu Sya’ban, Meneguhkan Takwa Menyongsong Ramadan

BACA JUGA:Rezeki Memang Tak Pernah Salah Alamat


Mini Kidi--

Dampaknya jelas: kue iklan yang dulu menopang media arus utama kini habis dibagi di dunia digital. Media mainstream hanya kebagian remah itu pun sering kali tak sanggup menutup ongkos produksi dan operasional.

Kondisi ini semestinya tidak dibiarkan. Pemerintah tak boleh berpura-pura tak melihat. Regulasi terkait periklanan di media sosial harus segera dirumuskan dan ditegakkan secara tegas.

Sejak pandemi Covid-19, belanja iklan anjlok drastis. Media arus utama bertahan dengan iklan dari relasi lama, sambil berharap napas masih cukup panjang.

Pertanyaannya: sampai kapan dibiarkan? Jika aturan tak kunjung hadir, media-media yang puluhan tahun menjadi pilar demokrasi keempat berisiko tinggal nama.

Padahal pers berperan sebagai pengawas kekuasaan, penyedia informasi publik, sarana edukasi dan literasi, ruang diskursus publik, hingga penangkal hoaks. Tanpa dukungan ekosistem yang adil, fungsi-fungsi itu akan terkikis perlahan.

Faktanya, banyak media terutama media cetakmasih bergantung pada iklan sebagai denyut nadi.

Media online yang selama ini menjadi pendamping koran juga seharusnya mendapat porsi yang lebih adil dalam pembagian belanja iklan, atau setidaknya tidak terus-menerus dianaktirikan oleh arus dana ke media sosial.

 

Jika tidak, maka tema HPN 2026, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, berisiko menjadi slogan kosong. Indah di spanduk, hampa di ruang redaksi.

Sumber: