Kembali ke Bumi

Kembali ke Bumi

Fatkhul Aziz--

Kita perlu membayangkan kembali Buraq. Bukan sebagai mahluk dalam mitologi yang melesat melampaui cahaya, melainkan sebagai sebuah metafora tentang jarak: jarak antara yang suci dan yang profan, antara langit yang hening dan bumi yang berisik oleh pertikaian.

Isra Mikraj, dalam ingatan kita yang sering kali mekanis, adalah sebuah perjalanan vertikal. Tapi kita sering lupa bahwa setelah mencapai Sidrat al-Muntaha, setelah menyentuh batas terjauh dari rasio dan imajinasi manusia, Nabi Muhammad S.A.W. memilih untuk turun kembali. Ia tidak menetap di keabadian yang nyaman. Ia kembali ke Mekkah yang berdebu, ke tengah umat yang keras kepala, ke dalam hiruk-pikuk sejarah yang berdarah.

BACA JUGA:Pesta Pasti Berakhir


Mini Kidi--

Di Indonesia tahun 2026 ini, "kembali ke bumi" itu terasa lebih mendesak sekaligus melelahkan.

Kita hidup di zaman di mana kecepatan bukan lagi mukjizat, melainkan kutukan. Jika Buraq membawa pesan melampaui ruang dan waktu, teknologi kita hari ini membawa kita melampaui batas kewarasan.

BACA JUGA:Super Flu

Kecepatan Informasi: Kita tahu segalanya dalam sekejap, tapi hampir tak memahami apa-apa.

Kebisingan Digital: Di media sosial, semua orang ingin menjadi "tuhan-tuhan kecil" yang menghakimi dari singgasana layarnya masing-masing, seolah-olah mereka baru saja turun dari langit membawa kebenaran mutlak.

Indonesia saat ini tampak seperti sebuah ruang tunggu yang gelisah. Kita baru saja melewati tahun-tahun politik yang melelahkan, di mana agama sering kali ditarik-tarik seperti karet—elastis untuk kepentingan kekuasaan, tapi kaku untuk kemanusiaan. Kita merayakan Isra Mikraj dengan khotbah-khotbah yang megah di gedung-gedung tinggi, sementara di gang-gang sempit, keadilan masih menjadi barang mewah yang sulit dibeli.

BACA JUGA:Perjalanan Penuh Perjuangan

Mungkin esensi dari perjalanan Nabi Muhammad S.A.W. adalah sebuah kritik terhadap kekuasaan. Di langit, ia melihat kesempurnaan. Namun di bumi, ia mempraktikkan kerendahan hati.

Hari ini, kita melihat gejala yang terbalik. Banyak dari kita yang merasa telah "mikraj"—merasa paling suci, paling benar, atau paling berkuasa—lalu enggan untuk menginjak bumi lagi. Kita melihat eksklusivisme yang mengeras di mana kelompok-kelompok yang merasa memegang kunci pintu surga, sementara pintu dialog di bumi mereka kunci rapat-rapat.Juga, ketimpangan yang terabaikan di mana pembangunan fisik melesat menuju awan (langit), namun pembangunan jiwa dan empati sering kali tertinggal di kerak bumi.

Agama, pada akhirnya, bukan tentang seberapa tinggi kita mendaki, tapi tentang seberapa peduli kita saat menoleh ke bawah.

Sumber:

Berita Terkait