Rileks
Ilustrasi--
Hiruk pikuk aktivitas sehari-hari yang kian kompleks kini telah berpotensi menyebabkan sistem otak kita mulai membunyikan alarm tubuh. Wujud bunyinya, antara lain, timbulnya rasa “bete”, sakit kepala, penat, lemas, kecewa, putus asa, dan cemas yang mengganggu ketenangan jiwa.
Ini adalah sinyal yang mengajak kita untuk berhenti sejenak dan rileks, yang tidak boleh diabaikan. Alasannya, alarm itu hanya akan berbunyi ketika otak mendeteksi kondisi tubuh yang sudah berada pada batas ambang toleransi tertinggi.
Artinya, jika melewati batas tersebut, secara pasti akan terjadi gangguan kesehatan fisik dan psikis, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, kegemukan, dan diabetes.
BACA JUGA:Berhenti Makan Sebelum Kenyang
Stres adalah penyebab utama keadaan itu, walaupun kita acapkali tidak mengakuinya. Tergantung pada berat ringannya, stres bisa memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Contohnya adalah otot nyeri atau tegang yang mengganggu rasa nyaman dan pasti memicu amarah.
Rasa lelah berpotensi memengaruhi daya ingat, yang kemudian memicu perilaku merokok sebagai pelarian. Stres yang membuat gairah seksual menurun pasti mengganggu rasa percaya diri, yang berujung pada perilaku menyimpang.
Awas, stres juga bisa mengganggu fungsi lambung, sehingga prestasi kerja menurun. Sulit tidur dapat terjadi karena stres berkepanjangan, yang menyebabkan depresi dan membuat seseorang mudah jatuh sakit akibat menurunnya daya tahan tubuh.
BACA JUGA:Lemak dan Kenikmatan Sesaat
Atasi Gejala Stres
Jangan abaikan bunyi alarm tubuh dan bersegeralah melakukan antisipasi sebelum terlambat. Langkah terpenting dan termudah adalah relaksasi untuk meredakan dan mengatur kembali kerja otak.
Caranya, lakukan pengaturan napas dengan teknik 4-7-8. Dalam posisi duduk tegak atau berbaring, mulailah membuang napas, tarik napas dalam 4 hitungan, tahan napas selama 7 hitungan, dan buang dalam 8 hitungan.

Mini kidi--
Awali dengan 4 kali gerakan, lalu tingkatkan hitungannya saat tubuh sudah mulai terbiasa. Pengaturan napas seperti itu sudah terbukti dapat membantu menurunkan tekanan darah yang tiba-tiba menjadi tinggi ketika seseorang merasa cemas.
Langkah selanjutnya adalah latihan berkonsentrasi melalui meditasi, zikir, dan cara serupa yang sangat baik untuk membantu mengendalikan fungsi otak. Memang tidak mudah, namun jangan berputus asa. Bila memungkinkan, ajaklah teman atau anggota keluarga untuk bersama-sama melakukannya.
Sumber:









