new idulfitri

Belajar Mengenali Lapar: Pelajaran Penting dari Berpuasa

Belajar Mengenali Lapar: Pelajaran Penting dari Berpuasa

Ilustrasi--

Pembaca setia memorandum.disway.id, kesehatan adalah modal utama untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Untuk menambah wawasan pembaca tentang hidup sehat, mulai sekarang Memorandum menghadirkan rubrik baru “Ayo Sehat” yang terbit setiap Senin.

Rubrik ini diasuh oleh Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil, M.S, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Melalui tulisan yang ringan dan mudah dipahami, pembaca akan mendapatkan berbagai pengetahuan seputar kesehatan, obat, rempah, serta tips menjaga tubuh tetap bugar.

Semoga rubrik ini menjadi referensi bermanfaat bagi pembaca untuk menjalani hidup yang lebih sehat.

Lebaran adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan rasa syukur saat puasa Ramadan usai. Ungkapan itu penting, karena berpuasa memang terbukti bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu faktor penyebab manfaat itu adalah terjadinya “metabolic reset”, yaitu proses di mana tubuh belajar mengatur penyediaan energi untuk aktivitas hidup secara lebih efisien.


Mini Kidi Wipes.--

Sumber bahan baku utama pengadaan energi ketika mulai berpuasa adalah gula atau karbohidrat dari makanan. Saat makanan habis dicerna, maka sumber beralih kepada cadangan lemak di dalam tubuh. Peralihan ini penting karena mengindikasikan cara kerja tubuh yang lebih fleksibel dalam pemenuhan keperluan  energi. Melalui studi ilmiah diketahui, bahwa keadaan itu terjadi berkat meningkatnya kemampuan tubuh dalam mengelola rasa lapar melalui sinyal tanda lapar.

Ini adalah sinyal dari saluran cerna dan darah yang diolah di otak, yang menandakan tibanya saat pengisian kembali sumber energi. Ketika tidak berpuasa, sinyal itu sulit dipastikan kebenarannya karena pasokan sumber energi makanan berlangsung terus menerus dan jadwal makan yang sering dilanggar. Keadaan ini menyebabkan tubuh tidak mengenal sinyal tanda lapar yang benar. Sebaliknya, pengaturan jadwal makan saat berpuasa membuat tubuh mengenal secara baik sinyal itu, dan menjadi dasar pengambilan keputusan tibanya saat makan yang tepat.

BACA JUGA:Seminar Kesehatan Ramadan Golkar Surabaya Diserbu Peserta, Edukasi Pola Hidup Sehat saat Puasa

Jadi, ketika puasa mulai menyebabkan berkurangnya cadangan energi, maka tubuh mengirimkan sinyal berupa rasa lapar yang muncul perlahan, disertai tanda fisik berupa perut kosong atau tubuh yang melemah. Inilah yang disebut   sebagai keadaan lapar yang benar, yang dapat menjadi dasar untuk merubah perilaku makan pasca puasa.

Merubah Perilaku Makan

Perubahan perilaku makan memberikan dampak positif bagi kesehatan, karena orang menjadi terbiasa mengendalikan waktu, jumlah dan jenis makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pengendalian ini perlu untuk mencegah atau mengatasi gangguan kesehatan akibat kenaikan berat badan, peningkatan kadar gula, trigliserida, kolesterol, dan tekanan darah.

Gangguan itu perlu di atasi untuk menjaga fungsi jantung, ginjal, liver, otak, saluran cerna, dan paru-paru. Fungsi otak yang baik diperlukan untuk meningkatkan daya ingat, kemampuan belajar, kewaspadaan dan berfokus. Pengendalian makan membuat kadar gula darah stabil karena tubuh mampu menggunakan gula secara benar.

BACA JUGA:Gerak 335 Jadi Andalan Rizky Jaga Pola Hidup Sehat Selama Ramadan

Stabilitas gula penting untuk mencegah lonjakan dan penurunan kadar gula darah yang berpotensi menyebabkan kelelahan, rasa lapar berlebihan, dan masalah kesehatan yang lebih serius. Profil lemak darah yang membaik terjadi ketika kebiasaan makan terkendali. Yaitu,  tubuh terbiasa  meggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi, sehingga tidak terjadi penumpukan lemak tubuh. 

Sumber: