Andung nyaris pingsan. Untung dia segera mendengar suara takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan dia perhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Karman yang sedang salat Tahajud. Perlahan Andung membalikkan tubuh membelakanginya.”Ya Allah, aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istri Karman,” kata hatinya. Tapi meskipun demikian, dia masih tidak bisa menerima kehadirannya dalam hidup. Saat itu, karena masih di bawah perasan ngantuk, Andung kembali tertidur. Hingga pukul 04.00 dini hari, dia dapati suami sedang tidur beralaskan sajadah di bawah ranjang pengantin. Dada Andung kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Dia masih belum percaya kalau telah bersuami. Tapi, ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benaknya: Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku? “Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku. Itu kan logikanya? Ada apa ini?” ujar Andung dalam hati. Andung merasa mungkin saja malam itu Karman kecapaian sehingga dia tidak mendatanginya dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. “Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh aku pun tidak menginginkannya,” gumamnya dalam hati. Hari-hari terus berlalu. Mereka pun menjalani aktivitas masing-masing, Karman bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan Andung, di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa dirinya telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suami. Yah, minimal menyediakan makanannya, meski kenangan-kenangan bersama Andi belum hilang dari benaknya. Jujur, diau bahkan masih merindukannya. Semula dipikir perilaku Karman yang tidak pernah menyentuhnya dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan. Ternyata tidak. Itu terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Karman selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar . Dia tidak pernah menyentuh Andung walau hanya menjabat tangan. Jujur segala kebutuhan selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu menafkahi, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhkan. Tapi soal biologis, Karman tak pernah sama sekali mengungkit-ungkitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kupahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Karman meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyentuh. Ada apa dengan Karman? Apakah dia lelaki normal? Kenapa dia begitu dingin? “Apakah aku kurang di matanya? Atau? Jujur, merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku,” batin Andung. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajiban? Ada apa dengannya? (jos, bersambung)
Cintanya Berkobar dan Padam di Tanah Rencong, Aceh (3)
Jumat 10-02-2023,10:00 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 31-03-2026,13:34 WIB
Amankan Aset Fasum, 18 PSU Pengembang Diserahkan ke Pemkot Surabaya
Selasa 31-03-2026,15:42 WIB
Bak Film Action, Penggerebekan Bandar Narkoba di Sumberbaru Temukan Lima Senpi dan Belasan Sajam
Selasa 31-03-2026,09:22 WIB
Harga Plastik Masih Tinggi Usai Lebaran 2026, Ini Penyebabnya
Selasa 31-03-2026,10:26 WIB
Petaka di Balik Kap Mesin: Niat Perbaiki Mobil, Rumah Warga Jember Ludes Dilalap Api
Selasa 31-03-2026,10:46 WIB
Tragedi Lebaran di Pesisir Selatan: Gulungan Ombak Papuma hingga Paseban Telan Korban, 1 Tewas dan 2 Hilang
Terkini
Rabu 01-04-2026,06:36 WIB
Karyawan Potong Rambut di Lidah Kulon Surabaya Dianiaya OTK, Bibir Robek
Rabu 01-04-2026,06:13 WIB
HUT ke-112, DPRD Kota Malang Komitmen Masifkan Sosialiasi Kebijakan
Rabu 01-04-2026,05:42 WIB
Roberto Martinez Tegaskan Cristiano Ronaldo Tetap Jadi Pilar Portugal di Usia 41 Tahun
Rabu 01-04-2026,05:32 WIB