Krisna (nama samaran) mulutnya terkunci. Rapat. Wajahnya tertunduk lesu di ruang rumah tamu rumah Memorandum. Sudah lima bulan ia nunggak pembayaran uang kuliah. Bila sampai bulan depan tidak segera melunasi, dia terancam di-DO (drop out). Krisna tidak bisa lagi mengambil cuti karena jatah cutinya sudah habis. Karena itu dia bingung. Pusing 13 keliling. Jangankan membayar uang kuliah, uang untuk makan sehari-hari saja harus didapatkan ibunya dari utang sana-utang sini. Gali lubang tutup lubang. Kesulitan itu terjadi sejak ayahnya yang bekerja sebagai sopir operator mesin produksi alat-alat rumah tangga terserang stroke, satu setahun silam. Terjadi pendarahan pada pembuluh darah di batang otak. Kini ayahnya lumpuh. Tulang punggung keluarga pun beralih ke ibunya. Perempuan paruh baya itu tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya aparatur sipil negara (ASN) rendahan di kantor kecamatan Surabaya Barat. Kakak perempuan Krisna juga tidak bisa membantu. Suaminya memang keren. Pegawai bank. Tapi, sudah tujuh tahun ini status kepegawaiannya tidak pernah meningkat. Hanya kotrak. “Sudahlah, ikut aku saja,” kata temannya, sebut saja Andik. Krisna menggeleng karena tahu apa pekerjaan temannya itu. Dan, bukan kali ini saja ajakan itu ditawarkan. “Awalnya memang canggung. Tapi kalau sudah biasa, kau akan menikmatinya,” kata Andik. “Terima aja, Kris. Siapa tahu ini pintu keberhasilanmu. Yang penting hati-hati,” sela teman lain, sebut saja Faried, “Sebenarnya aku ada. Tapi, kadung diisi saudara dari desa. Jadi sopir pribadi Ibu. Cocok untuk kamu. Hanya antar-jemput kerja dan sesekali shopping.” Faried memang anak orang kaya. Ayahnya pejabat dan ibunya sosialita yang pengusaha sukses. Istilahnya kekiniannya: Faried anak keluarga sultan. Dulu, sebelum jadi teman kuliah Krisna, Faried kuliah di perguruan tinggi negeri. Karena terlibat tawuran dan ketahuan memakai obat-obatan terlarang, dia di-DO dan terpaksa harus pindah kuliah ke kampus yang juga tempat kuliah keponakan Memorandum. “Seandainya aku menerima tawaranmu, apa sih Ndik yang harus aku kerjakan?” kata Krisna kemudian setelah berdiam diri cukup lama. “Hanya nemani dinner tante-tante merayakan keberutungan setelah memenangkan lot arisan bulanan. Cuma itu.” “Edan kamu. Hanya itu katamu?” “Kamu bisa menolak kok kalau mereka memaksa kamu berbuat macam-macam. Perjanjiannya hanya menemani makan malam. Titik. Tidak lebih,” tegas Andik, yang mengakui dirinya sudah beberapa kali menemani tante-tante yang memenangi lot arisan. “Sungguh?” tanya Krisna, yang tampaknya menyangsikan pernyataan Andik. Andik tersenyum, mencoba meyakinkan Krisna. Krisna terlihat menarik napas panjang sambil menunduk sebelum menengadah dan memandangi tajam mata Andik. “Sumpah hanya itu?” tegasnya bernada seperti menyangsikan. “Apa yang ada dalam pikiranmu.” (jos, bersambung)
Bintang Terang Mahasiswa yang Sopir Arisan Sosialita (1)
Senin 26-12-2022,10:00 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 05-04-2026,18:00 WIB
PDIP Surabaya Resmi Ajukan PAW, Anas Karno Disiapkan Gantikan Adi Sutarwijono
Minggu 05-04-2026,19:09 WIB
Gelar Muscab, Tujuh Nama Berpotensi Pimpin DPC PKB Jombang
Minggu 05-04-2026,16:47 WIB
Sapi Langka dan Daging Ilegal Marak, Pedagang Kota Pasuruan Mogok Total
Minggu 05-04-2026,22:29 WIB
Pedagang Melon di Pasar Gede Solo Rasakan Dampak Ekonomi dari Program MBG
Minggu 05-04-2026,16:08 WIB
Polisi Kawal Perayaan Paskah, Ibadah di Kediri Berjalan Kondusif
Terkini
Senin 06-04-2026,15:00 WIB
Rekomendasi 10 Film Anak Indonesia Edukatif Karya Anak Bangsa
Senin 06-04-2026,14:51 WIB
Lawan Normalisasi Catcalling, Pengacara Elok Kadja Tegaskan Pelecehan Verbal Bisa Picu Minder dan Trauma
Senin 06-04-2026,14:46 WIB
Kuras Uang Perusahaan Rp52,5 Juta, Supervisor Ayam Goreng Ny. Suharti Divonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara
Senin 06-04-2026,14:23 WIB
Berkas Perkara Lengkap, Kasus Pencabulan Libatkan Anak Kiai Bangkalan Siap Disidangkan
Senin 06-04-2026,14:20 WIB